Memiliki Anak dari Pasangan Terinfeksi HIV
Di Indonesia diperkirakan ada 600.000 orang yang terinfeksi HIV, tetapi baru sekitar 120.000 yang dilaporkan
Oleh dr Samsiridjal Djauzi
WARTA KOTA, PALMERAH - Saya menikah enam bulan yang lalu dan sekarang menjadi karyawati sebuah bank. Saya berumur 28 tahun dan suami berusia 30 tahun. Selama enam bulan ini suami selalu memakai pelindung jika berhubungan dengan alasan belum siap untuk punya anak. Kemudian baru saya tahu rupanya dia terinfeksi HIV karena menggunakan narkoba suntikan sewaktu SMU. Dia tidak ingin menulari saya sehingga konsisten menggunakan pelindung.
Namun, rupanya sekarang kemajuan dalam penelitian infeksi ini sudah menghasilkan kesimpulan bahwa mereka yang menggunakan obat antiretroviral (ARV) secara teratur akan berkurang kemungkinan penularannya sekitar 96 persen. Suami saya baru saja menjalani tes
jumlah virus dan ternyata sekarang jumlah HIV dalam darahnya sudah tidak terdeteksi lagi. Sudah tentu dia harus tetap minum obat ARV agar keadaan tersebut dapat dipertahankan. Saya juga sudah memeriksakan diri dan syukurlah HIV saya nonreaktif (negatif).
Saya mencintai suami saya karena itu saya ingin memberikan dukungan dan membina keluarga dengan baik. Setahu saya, kami dapat punya anak dan saya serta anak kami dapat bebas dari HIV. Benarkah demikian?
Selama ini yang mengetahui status suami saya hanya saya dan mertua. Kedua orangtua saya tidak tahu, padahal kami justru tinggal dengan orangtua saya. Adakah hal-hal yang perlu diperhatikan suami saya agar tidak menularkan HIV kepada orang-orang di rumah saya seperti orangtua saya, pembantu, dan sopir? Kapan kami dapat merencanakan untuk punya
anak?
Suami menjadi pemborong bangunan. Pekerjaannya cukup berat, apakah harus berganti pekerjaan atau membatasi beban pekerjaan? Apa saja yang harus kami lakukan agar saya dan anak kami nanti tidak tertular HIV? Terima kasih atas penjelasan dokter.
M di J
AIDS merupakan penyakit yang amat mungkin dapat dikendalikan, sedangkan TBC dan malaria masih menunggu waktu yang lebih lama. Karena itulah, WHO berani menentukan pencapaian bahwa di masa depan tidak ada kematian yang berkaitan HIV, tidak ada kasus baru, serta tidak ada lagi diskriminasi. Waktu pencapaian tersebut masih lama, tetapi para pakar sepakat bahwa capaian tersebut akan dapat diwujudkan.
Di Indonesia diperkirakan ada 600.000 orang yang terinfeksi HIV, tetapi baru sekitar 120.000 yang dilaporkan dan sisanya belum diketahui sehingga kita perlu melakukan tes HIV secara aktif agar saudara-saudara kita tersebut dapat terdeteksi dan diobati dengan ARV. Pengobatan menggunakan ARV tidak hanya bermanfaat untuk mereka yang menggunakan obat, tetapi juga mengurangi risiko penularan secara tajam. Karena itu, obat ARV disebut juga sebagai treatment as prevention, jadi tidak hanya obat, tapi juga pencegahan.
Saya menghargai sikap Anda yang memberi dukungan penuh kepada suami. Tidak ada orang yang menginginkan anggota keluarganya tertular HIV. Namun jika ada, kita semua harus berusaha membantu. Dalam perencanaan keluarga, pasangan yang baru menikah diharapkan belum punya anak dulu selama setahun. Waktu setahun ini hendaknya digunakan untuk mempersiapkan diri dengan baik. Kaidah ini berlaku untuk keluarga yang
tidak ada masalah HIV sekalipun.
Risiko penularan
Memang jika usia calon ibu sudah mendekati 35 tahun, masa tunggu yang setahun ini dapat diperpendek. Jadi saya menganjurkan Anda untuk hamil enam bulan lagi meski risiko penularan sekarang sudah hampir tidak ada karena viral load (jumlah virus HIV) dalam darah suami sudah tidak terdeteksi. Di Jakarta kita juga sudah dapat memeriksa HIV pada cairan sperma, ada baiknya pemeriksaan ini juga dilakukan. Meski pada umumnya jika virus tidak ditemukan di darah, maka di sperma juga tidak ditemukan. Namun, untuk lebih aman, ada baiknya tetap dilakukan pemeriksaan sperma. Jika Anda negatif HIV, tidak ada tindakan khusus karena bayi hanya tertular HIV dari ibu yang positif HIV. Ini berarti Anda dapat melahirkan secara normal dan juga menyusui bayi Anda.
Bagaimana jika ibu HIV positif, apakah bayinya pasti tertular? Risiko penularan HIV dari ibu yang positif HIV sekitar 35 persen, risiko penularan semasa kehamilan 7 persen, semasa melahirkan sekitar 15 persen, dan pada masa menyusui sekitar 13 persen. Karena itu,
dianjurkan ibu yang positif HIV menjalani tiga upaya pencegahan, yaitu minum obat ARV, melahirkan melalui operasi sectio caesaria serta menggunakan susu pengganti jika persyaratan terpenuhi. Melalui ketiga cara ini, risiko yang 35 persen akan turun tajam enjadi kurang daripada 2 persen.
Bagaimana jika ibu minum obat ARV teratur sehingga sebelum melahirkan viral load sudah tidak terdeteksi? Para pakar pada umumnya sepakat pada keadaan ini jika ibu memilih partus biasa atau akan menyusui bayinya, maka risiko penularan tetap amat rendah. Jadi pada umumnya mengizinkan.
Penularan HIV dewasa ini yang penting adalah melalui hubungan seksual serta melalui jarum suntik yang tercemar, biasanya pengguna narkoba suntik memakai jarum bersama. Di luar cara itu, risiko penularan tidak ada. Jadi, mereka yang serumah dengan orang dengan HIV/AIDS tidak perlu takut tertular. Sudah tentu dalam kehidupan kita mempunyai barang-barang pribadi seperti pisau cukur, gosok gigi yang tidak kita pakai bersama orang lain. Jika dipakai bersama, risiko penularan yang mungkin terjadi melalui alat tersebut adalah penularan hepatitis B.
Bagaimana dengan kegiatan orang yang terinfeksi HIV? Jika keadaannya sudah stabil dan baik, apalagi jika viral load sudah tidak terdeteksi serta jumlah CD4 sudah normal, dia dapat beraktivitas seperti biasa. Usia harapan hidupnya juga hampir sama dengan orang yang tidak terinfeksi. Jadi memang banyak kemajuan dalam penatalaksanaan dan pencegahan infeksi HIV. Namun, sudah tentu bagi mereka yang tidak terinfeksi harus tetap menjaga agar tidak tertular HIV. Bagaimanapun pencegahan lebih baik daripada pengobatan.