Lahan Sewaan KPK, Dari Ular Kobra Sampai Anjing Liar
Saat itulah terkadang binatang seperti ular keluar. Ada jenis ular yang bisanya tidak begitu ganas.
WARTA KOTA, MANGGARAI - Fakta lainnya di lapangan, ketika hujan, tanah di 'hutan' itu berubah becek luar biasa. Menjadi seperti rawa-rawa. Saat itulah terkadang binatang seperti ular keluar. Ada jenis ular yang bisanya tidak begitu ganas. Tapi begitu matahari bersinar dan tanah jadi hangat, giliran ular kobra yang muncul.
Hardi (40), warga Kampung Bali Matraman lainnya, menceritakan, kalau ular kobra keluar, bunyinya seperti sedang menggigit kodok.
"Kalau dulu ada warga namanya Sugi. Dia senang sekali makan ular kobra. Kalau ketemu ular kobra, dia tangkap itu. Lalu dipotong-potong dan digoreng begitu saja," kata Hardi kepada WARTA KOTA, Minggu (23/2) siang.
Sedangkan ular sanca cenderung jarang terlihat. Terakhir ada ular sanca tertangkap di situ tahun 2012. Diameter tubuhnya sampai 20 sentimeter.
Selain itu, saking lebatnya hutan, burung liar mampir dan bersarang di situ. Didalamnya juga hidup anjing-anjing liar jenis mongrel. Orang biasanya menyebutnya anjing kampung. Ukuran dan warnanya macam-macam. Ada yang kecil dan pendek. Tapi ada pula yang besar.
Biasanya warga menangkapi anakan anjing liar di hutan, lalu dijual di Taman Lawang, tempat jual beli anjing. "Paling dijual Rp50 ribu satu ekor anak anjing," kata Adam.
Bukan cuma lahan bagian belakang yang jadi becek saat hujan. Tapi halaman bagian depan yang beraspal juga tergenang air ketika hujan turun. Seperti pada Sabtu (22/2) saat Jakarta diguyur hujan lebat seharian. Halaman depan lokasi yang disewa KPK itu tergenang air sampai di atas mata kaki orang dewasa.