resensi buku

Mengembangkan Indonesia Kecil

Kisah sukses KG bukanlah modal materiil, melainkan karakter kepemimpinan, sikap santun dan rendah hati, ketercerahan visi dan gagasan

Oleh Mochtar Pabottingi

WARTA KOTA, PALMERAH - Mengembangkan Indonesia Kecil adalah kesaksian setengah abad dari kebangkitan kelompok bisnis media yang kemudian tampil dengan nama Kompas Gramedia. Bertutur perihal dunia usaha yang digeluti, terutama ”Kompas”, sebagai ”perjuangan kecil” untuk mewujudkan ideal-ideal keindonesiaan.

Kekuatan buku ini terletak pada kearifan pemilihan sub-sub tema penting yang semuanya ditulis secara jujur, cerdas-lugas, dan saling melengkapi. Pertama-tama bertutur tentang jiwa, visi, komitmen, dan kiprah kedua tokoh pendiri Kompas Gramedia (KG)—Jakob Oetama dan PK Ojong—dalam suka-duka perjuangan mereka membangun landasan bisnis yang sehat dan sebagai sarana bakti bagi bangsa dan Tanah Air.

Diawali dengan majalah Intisari, bahu-membahu dan secara bertahap Jakob-Ojong menapakkan KG dengan fondasi prinsip-prinsip bisnis dan etika yang tangguh. Sembari menyadari pentingnya kesejahteraan para karyawan, mereka tetap meneladankan hidup sederhana, berpikir luhur, dan berkarya sebagai bagian dari ibadah. Kala memburu keuntungan finansial dengan bekerja tulus dan tuntas, mereka pun menegakkan idealisme, bijaksana dalam mengelola dana bisnis dengan ancang-ancang ekspansi usaha serta penyebaran kesejahteraan. Prinsipnya ”hadir untuk melayani, bukan dilayani”.

Berkarakter
Kisah sukses KG bukanlah modal materiil, melainkan karakter kepemimpinan, sikap santun dan rendah hati, ketercerahan visi dan gagasan, serta kemampuan membaca tuntutan zaman.

Para pendiri KG menjadikan iman sebagai sumber ”motivasi dan inspirasi untuk mengangkat dan menyublimasi kemanusiaan”. Di atas semuanya, mereka sama-sama menekankan cinta dan komitmen tulus kepada keindonesiaan—termasuk terus memupuk keragaman budayanya demi upaya bersama menjadikan bangsa kita sejahtera dan berkeadilan.

Terlepas dari luasnya subtema yang dirangkai menjadi suatu kesatuan dalam buku ini, intinya ialah bagaimana KG berkiprah dengan sekaligus ”mengembangkan Indonesia Kecil” bukan sebagai by product, melainkan sebagai bagian inheren rencana awal bisnis. Dalam kehidupan pribadi mereka pun, Ojong dan Jakob sama-sama bisa disebut ”relawan keindonesiaan”. ”Mengembangkan Indonesia Kecil” khususnya bagi Kompas berarti terus ikut berusaha melaksanakan ”amanat hati nurani rakyat” dan ”mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Dari judul yang diberikan perlu dibaca sebagai suatu upaya bakti riil, terutama dari Kompas, untuk memberikan aktualisasi nyata dan komprehensif dari ideal-ideal pendirian negara-bangsa kita. Sebab, memang ada kesejalanan cakrawala, yaitu antara para pendiri bangsa kita dan duo pendiri KG.

Kesejalanan cakrawala terjadi karena pada para pendiri bangsa dan kedua tokoh pendiri KG tadi berlaku ketercerahan pemikiran yang bertumpu pada jiwa serta kultur bangsa sendiri dan pada bacaan buku-buku berkualitas yang menjangkau jauh ke masa depan dalam imajinasi kebajikan. Keduanya sama-sama menginternalisasikan kebajikan gerakan-gerakan kerakyatan yang mengangkat harkat bangsa. Maka pada kedua lingkup ketokohan lintas generasi ini juga terbaca dan berlaku adagium finis coronat opus—cita-cita memahkotai karya.

Namun, seperti tiap kali suatu organisme sosial mengalami transformasi besar dalam tempo dan besaran kegiatan, muncul pulalah rasa gamang pada titik-titik tertentu di dalamnya. Ini tampak pada wanti-wanti Agung Adiprasetyo (menyangkut pengontrasan melihat ke belakang atau menatap ke masa depan), Sindhunata (menyangkut kemungkinan kerawanan humanisme di dalam korpus bisnis sendiri), dan Hariadi Saptono (menyangkut betapa besarnya PR keindonesiaan).

Modal karakter, nilai-nilai, dan prinsip-prinsip bisnis yang membangun KG, menurut saya, sudah suatu ”kompas” yang sungguh memadai. KG tak perlu khawatir menatap masa depan. Kegamangan memang tak pernah terpisahkan dari dinamika kehidupan. Kekurangan pasti selamanya menyertai tiap tokoh dan tiap aktualisasi ideal-ideal. Toh, tetap perlu diakui bahwa selain cakrawala dan ketercerahan tidak statis, fondasi bangunan Kompas cukup andal untuk menjangkau jauh ke masa depan.

Jika kita sudah memutuskan hidup dengan telos, tatapan ke depan takkan pernah bisa dipisahkan dari tengokan ke belakang, tentu tidak dalam pengertian ”back to the future”. Justru untuk berjalan lurus ke depan selalu esensial menghormati dan menyimak tapak-tapak sejarah yang telah kita tempuh. Dalam hitungan ini, KG sangat beruntung. Sebab, via Providentia Dei—ungkapan yang kerap diangkat Pak Jakob dengan penuh rasa syukur dan sikap merunduk—beliau sendiri telah setia mendampingi hingga KG melewati usia setengah abad. Dari situ pasti tak terhitung teladan yang telah beliau berikan dalam rentang waktu sepanjang itu. Dan lebih penting lagi, Providentia Dei takkan pernah berhenti.

Kreativitas laba-bakti
Bagi saya, kerawanan inheren terbesar yang dihadapi KG di masa depan bukanlah terutama menyangkut nasib prinsip humanisme liberal di dalam tubuhnya, melainkan lebih bagaimana laba terus dikelola secara tercerahkan. Dari waktu ke waktu, ada tantangan kreativitas-orisinal terhadap para pimpinan KG untuk menemukan rumus win-win perihal proporsi atau kesejalanan yang pas antara kerja terus memperbesar laba dan lingkup usaha dengan kontinuitas serta perluasan bakti/teladan keindonesiaan yang memang sudah diniatkan sedari awal dan yang selama ini sudah dilaksanakan KG.

Di Tanah Air, KG potensial menjadi pelopor perusahaan besar yang membuktikan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun Indonesia dengan cinta-kasih adalah sekaligus menguntungkan perusahaan. Dengan begitu, ia sekaligus membuktikan betapa buruknya perilaku bisnis media di bawah pimpinan ”media Moghul” Rupert Murdoch di Inggris, betapa berbahayanya neoliberalisme sebagaimana digambarkan Noam Chomsky dalam Profit Over People, dan betapa niscayanya apa yang dicanangkan Amartya Sen dalam Development as Freedom. Dan, saya kira, setiap pembaca jujur yang sempat menyimak buku Mengembangkan Indonesia Kecil tidaklah terlalu sulit membayangkan KG sebagai monumentum aere perennius—monumen yang lebih tahan daripada perunggu.

MOCHTAR PABOTINGI,
Profesor Riset LIPI

Sumber: KOMPAS
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved