Gunung Kelud
Mitos Gunung Kelud Ratusan Tahun Lalu
Setelah sekitar tujuh tahun tidur, Gunung Kelud "mengamuk" pada Kamis (13/2) pukul 22.50.
WARTA KOTA, PALMERAH— Setelah sekitar tujuh tahun tidur, Gunung Kelud "mengamuk" pada Kamis (13/2) pukul 22.50. Letusan Gunung yang berada di tiga kabupaten di Jawa Timur, yakni Kediri, Blitar, dan Malang, masih terjadi hingga Jumat (14/2) dini hari.
Perut Gunung Kelud menyemburkan kerikil dan debu serta pasir ke sejumlah wilayah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan bahkan hingga Jawa Barat. Suara dentuman menggelegar bahkan terdengar hingga Kota Solo dan Yogyakarta.
Di Kota Kediri yang jaraknya hanya sekitar 35 km, terjadi hujan kerikil. Sedangkan di Kota Tulungagung debu menyebar sangat tebal. Jarak pandang di Jalan Raya Kediri-Tulungagung hanya sekitar 15 meter. Warga di sekitar Kelud dievakuasi hingga radius 10 km dari puncak Gunung Kelud.
Menurut catatan sejarah, Gunung Kelud termasuk tipe stratovulkan dengan karakteristik letusan eksplosif. Seperti banyak gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung Kelud terbentuk akibat proses subduksi lempeng benua Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia.
Sejak 1300, gunung ini tercatat aktif meletus dengan rentang jarak waktu yang relatif pendek sekitar 9-25 tahun. Kelud merupakan gunung api yang berbahaya bagi manusia.
Kekhasan gunung api ini adalah adanya danau kawah yang ada hingga akhir tahun 2007. Saat terjadi erupsi, lahar letusan sangat cair keluar dan membahayakan penduduk sekitarnya.
Kisah legenda
Warga sekitar Kelud sebagian percaya tentang legenda gunung api ini. Gunung Kelud konon bukan berasal dari gundukan tanah yang meninggi secara alami. Seperti Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat, Gunung Kelud dipercaya terbentuk dari sebuah pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti mahesa Suro dan Lembu Suro.
Saat itu, Dewi Kilisuci, anak putri Jenggolo Manik, yang terkenal akan kecantikannya dilamar dua orang raja. Namun yang melamar bukan dari bangsa manusia, karena yang satu berkepala lembu bernama Raja Lembu Suro dan satunya lagi berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.
Untuk menolak lamaran tersebut, menurut cerita zaman dulu Dewi Kilisuci membuat sayembara yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa, yaitu membuat dua sumur di atas puncak Gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan yang satunya harus berbau wangi dan harus selesai dalam satu malam atau sampai ayam berkokok.
Akhirnya dengan kesaktian Mahesa Suro dan Lembu Suro, sayembara tersebut disanggupi. Setelah berkerja semalaman, kedua-duanya menang dalam sayembara. Tetapi Dewi Kilisuci masih belum mau diperistri. Kemudian Dewi Kilisuci mengajukan satu permintaan lagi. Yakni kedua raja tersebut harus membuktikan dahulu bahwa kedua sumur tersebut benar-benar berbau wangi dan amis dengan cara mereka berdua harus masuk ke sumur.
Terpedaya oleh rayuan tersebut, keduanyapun masuk ke sumur yang sangat dalam tersebut. Begitu mereka sudah berada dalam sumur, lalu Dewi Kilisuci memerintahkan prajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu. Maka matilah Mahesa Suro dan Lembu Suro.
Tetapi sebelum mati, Lembu Suro sempat bersumpah dengan mengatakan. "Ó.. yoh, wong Kediri mbesuk bakal kepethuk piwalesku sing makaping kaping, yoiku Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung. (Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau).
Dari legenda ini akhirnya masyarakat lereng Gunung Kelud melakukan sesaji sebagai tolak balak sumpah itu yang disebut Larung Sesaji. Acara ini digelar setahun sekali pada tanggal 23 bulan Suro oleh masyakat Sugih Waras. Tapi khusus pelaksanaan tahun 2006 sengaja digebyarkan oleh Bupati Kediri untuk meningkatkan pamor wisata daerahnya.
Pelaksanaan acara ritual ini juga menjadi wahana promosi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan untuk datang ke Kediri. Bagaimanapun aktivitas Gunung Kelud dengan segala pernak-perniknya menjadi salah satu obyek wisata unggulan di Kabupaten Kediri. (Tribun/berbagai sumber)
Informasi lebih lengkap, silakan baca Warta Kota edisi Sabtu (15/2/2014).