Konvensi Demokrat

Komite Konvensi Ganti Prof Hamdi Muluk

Juru Bicara Konvensi Capres Partai Demokrat, Hinca Pandjaitan, menegaskan anggota badan audit survey konvensi sudah 3 orang.

Komite Konvensi Ganti Prof Hamdi Muluk
twitter.com
Pengamat Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk

WARTA KOTA, PALMERAH— Juru Bicara Konvensi Capres Partai Demokrat, Hinca Pandjaitan, menegaskan anggota badan audit survey konvensi sudah lengkap tiga orang.

Prof Hamdi Muluk yang mundur dari badan audit survei konvensi kini posisinya sudah digantikan oleh Dr Almuktabar.

"Dia (Hamdi Muluk) sibuk di fakultasnya," kata Hinca, Selasa (14/1/2013).

Menurut dia semua kegiatan konvensi berjalan lancar dan baik. "Minggu depan sudah mulai debat bernegara 11 Capres konvensi. Ada 3 Lembaga survey sedang bekerja begitu juga tiga orang ahli yang mengawasi pelaksanaan survey," katanya.

Hamdi Muluk, pakar psikologi  Universitas Indonesia (UI), mengundurkan diri dari anggota Komite Audit Survei Konvensi Demokrat. Semula ia diminta komite untuk masuk menjadi anggota komite untuk mengaudit survei dalam Konvensi Demokrat. Ketika itu, ujar Hamdi, dia tertarik dan memutuskan menerima tawaran setelah diyakinkan oleh beberapa anggota komite dari eksternal Partai Demokrat. Salah satu yang meyakinkan dirinya adalah Effendi Ghazali, yang tak lain sahabat sesama akademisi UI.

"Waktu itu mereka meyakinkan saya. Katanya konvensi ini bagus, bisa mengurangi oligarki politik, saya suka, dan akhirnya menerima," kata Hamdi, saat dihubungi dari Jakarta, Minggu (12/1/2014) malam, seperti dikutip Kompas.com

Akan tetapi, ketertarikannya pada konvensi terus-menerus tergerus. Penyebabnya, karena komite yang dianggapnya tak serius menyusun dan menggarap pelaksanaan konvensi.

Pada medio Oktober-November 2013, ada sekitar 4-5 undangan rapat bersama komite. Agendanya adalah untuk menyelaraskan kerja tim audit dengan aturan main dalam konvensi. Namun, rapat itu tak pernah sekalipun berjalan efektif dan selalu molor dari waktu yang dijadwalkan.

Selain waktu rapat yang selalu molor, guru besar psikologi UI ini juga tak suka dengan gaya kerja komite. Termasuk, cara mengundang rapat yang dinilainya terlalu mepet. Beberapa anggota komite, ia katakan, datang dan pergi sesuka hati. Padahal pada waktu yang sama ada agenda rapat bersama tim audit yang beranggotakan Tamrin Amal Tamagola, Andrinof Chaniago, dan Al Muktabar.

"Diminta datang ke Wisma Kodel, katanya rapat, jangan sampai telat. Tapi, ternyata ruangan kosong. Undangan rapat jam 4 sore, tapi mulainya selalu setelah makan malam," ujarnya.

Dengan pola kerja yang seperti itu, kata Hamdi, dia menjadi tak dapat bekerja optimal. Aturan main untuk tim audit tak pernah dibuat dan surat pengangkatan yang resmi juga tak pernah ia terima. Komunikasi selalu dijalin lewat SMS, termasuk ajakan komite kepada Hamdi untuk menjadi tim audit.

"Harusnya kan jelas dibicarakan apa yang saya kerjakan, hak dan kewajiban dan lainnya. Ini kan enggak, yang ada hanya ha-ha he-he saja," ungkapnya.

Buntutnya, pada pekan kedua Desember 2013, Hamdi memutuskan mengundurkan diri sebagai anggota tim audit. Pengunduran diri itu ia sampaikan melalui SMS kepada Sekretariat Konvensi selaku pihak yang mengundangnya.

"Saya kirim SMS, saya bilang enggak bisa kerja optimal dengan gaya bekerja seperti ini. Saya juga bilang maaf mengundurkan diri pakai SMS karena kalau pakai tertulis kan lucu juga soalnya pengangkatan dilakukan lewat SMS. Saya menganggap komite enggak serius," tandasnya.

Penulis: z--
Editor: Suprapto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved