Jumat, 10 April 2026

Tiga Alasan PKL Menolak Direlokasi

Pendapat itu diungkapkan beberapa PKL yang mengaku sebelumnya pedagang di Pasar Kebayoran Lama, dan Pasar Bata Putih.

WARTA KOTA, PASARMINGGU - Tiga alasan umum PKL menolak direlokasi adalah sepi pengunjung, sewa gratis terbatas, dan biaya sewa mahal. Pendapat tersebut diungkapkan oleh beberapa PKL yang mengaku sebelumnya seorang pedagang di dalam Pasar Kebayoran Lama, dan Pasar Bata Putih.

Karena biaya sewa dan pungli yang kelewat batas, mereka akhirnya memutuskan untuk pindah keluar dan turun ke jalan karena biaya lebih murah ketimbang di dalam pasar.

Setali tiga uang, PKL yang menempati area relokasi gedung Pasarminggu dan Lokbin Pasarminggu pun mengaku kalau masa sewa gratis berakhir, dan mahalnya biaya sewa, mereka akan kembali turun ke jalan.

Karena sejak empat bulan menempati area relokasi, pendapatan mereka tidak lebih dari 10 persen dibandingkan dari berjualan di pinggir jalan.

Seperti halnya Mariyem (65), pedagang jeruk di sisi sebelah barat Lokasi Binaan (Lokbin) Blok A Parkiran mengaku sudah berjualan lebih dari empat bulan lamanya, terhitung sejak ditertibkannya para Pedagang Kaki Lima (PKL) pada awal Agustus 2013 lalu.

Kendati begitu, dia hingga kini belum merasakan keuntungan upaya relokasi tersebut. Sebab dalam kurun waktu satu minggu saja, dirinya hanya berhasil menjual dengan rata-rata sebanyak tiga sampai lima kilogram buah jeruk saja atau hanya senilai sebesar Rp40 ribu.

"Kalau mau jujur, ini saja (jeruk) kita belanja dari induk satu peti isi 50 kilo. Seminggu belum laku, busuk udah lima kilo, kejual tiga kilo. Itu aja udah bisa dilihat untung-ruginya," jelasnya menunjuk keranjang berisi tumpukan jeruk busuk.

Diakuinya, kondisi nyaman serta sejuknya berjualan di area lokbin tersebut sangat berbeda jauh dengan lokasi lapaknya sebelumnya yang berada di depan Polsek Pasarminggu, Jalan Raya Ragunan, Pasarminggu, Jakarta Selatan.

Namun, kerindangan atap terpal dan kondisi sejuk tanpa asap knalpot tersebut tidak bisa dinikmatinya apabila pembeli tidak kunjung dan membeli jeruk-jeruk yang dijualnya saat ini.

"Kalau sepi begini gimana nasib kita, sebenarnya enakan sih di sini, adem nggak keujanan-nggak kepanasan. Tapi kalau sepi sama aja bohong," jelasnya.

Ditemui terpisah, Yeyen (43) Pedagang sembako Pasar Kebayoran Lama mengatakan, dilemanya yang sudah berjualan di dalam gedung Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Perempuan berjilbab itu mengaku kalau dirinya merasa keberatan jika harus membayar biaya sewa sebesar Rp1.680.000 per tahun.

Karena biaya tersebut diluar biaya harian yakni retribusi sampah, listrik dan air sebesar Rp 8000 per hari. Selain itu, para pedagang pun diwajibkan untuk membayar biaya Tunjangan Hari Raya (THR) sebesar Rp6 juta per tahun.

"Itu rincian biaya tahun ini, semuanya sudah dibayar pedagang. Jelas kita merasa keberatan soal biaya ini, karena setahun saja seenggaknya Rp7 juta kita keluarkan buat biaya sewa tempat aja," ungkapnya.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved