Senin, 13 April 2026

Walang Si Pengemis Rp25 Juta Menetap di Panti Sosial

Uang sejumlah Rp25.448.600 itu terdiri pecahan seratus, seribu, dua ribu, sepuluh ribu, hingga ratusan ribu rupiah.

Penulis: Mohamad Yusuf |

WARTA KOTA, CIPAYUNG - Tumpukan ratusan lembar uang itu diletakkan di atas meja. Beberapa lembar uang disatukan dalam beberapa ikatan. Uang sejumlah Rp25.448.600 itu terdiri pecahan seratus, seribu, dua ribu, sepuluh ribu, hingga ratusan ribu rupiah.

Namun, siapa sangka, uang yang bentuknya sudah lusuh itu, merupakan milik Walang bin Kilon (54), pengemis asal Kampung Waladin R 24/06, Kelurahan Pasirbungur, Subang, Jawa Barat.

Uang tersebut selalu dibawa oleh Walang ketika berkeliling mengemis di Jakarta bersama rekannya, Sa'aran bin Satiman (70), warga Kampung Tanjungan, Desa Rancaasih RT 15/07 Patokbesi, Subang, Jawa Barat.

Keduanya telah diamankan oleh pihak Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, saat mengemis di Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (26/11) pukul 22.00. Kini mereka telah diserahkan di Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2, Jalan Bina Marga No 48, Kelurahan Ceger, Cipayung, Jakarta Timur.

Ketika ditemui di panti tersebut, Kamis (28/11) pagi, tampak keduanya telah mengenakan pakaian yang sama. Yaitu kaos hijau, celana training panjang biru dengan garis putih, serta sandal jepit kuning. Walang sendiri terlihat tenang.

Ia selalu menjawab seluruh pertanyaan wartawan dengan menggunakan bahasa dan logat sunda yang khas. Namun, terkadang ia tidak mengerti apa yang ditanyakan wartawan karena ia tidak sepenuhnya tahu bahasa Indonesia.

Rambut Walang hampir seluruhnya sudah memutih. Kulitnya yang hitam legam juga sudah mengeriput. Tampak tangan kanannya juga cacat. Yang diakui ketika ia mengidap sakit panas tinggi saat usianya sembilan tahun. Sedangkan, tubuhnya juga sudah terlihat membungkuk.

Sementara, Sa'aran, terlihat lebih pendiam. Ia pun hanya terdiam di atas kursi roda yang digunakannya. Cukup berbeda dengan Walang yang tampak lebih gesit dengan memperagakan gerakan setiap ia menceritakan kisah hidupnya.

Walang dan Sa'aran merupakan dua pria yang menjadi pengemis di Jakarta. Sehari-hari, mereka berbagi tugas. Sa'aran duduk di atas gerobak, sedangkan Walang yang mendorongnya. Gerobak itu sendiri berupa gerobak bikinan Walang, dengan menggunakan balok kayu dan papan, panjang satu meter, lebar 50cm, serta tinggi 10cm.

Dilengkapi dengan roda kecil sebanyak empat buah di setiap sudutnya. Gerobak itu dasarnya dilapisi busa dengan kulit berwarna hitam, untuk dijadikan tempat duduk dan bersandar Sa'aran. "Saya bikin sendiri, habis sekitar Rp400 ribu, mahal di rodanya," kata Walang ditemui di panti tersebut, Kamis (28/11) pagi.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved