Jumat, 10 April 2026

Aksi Mogok Dokter

Dokter Bekasi Gelar Aksi, Poliklinik Tutup

Puluhan rumah sakit swasta di Kota dan Kabupaten Bekasi menutup layanan poliklinik, Rabu (27/11/2013).

Penulis: | Editor: Lucky Oktaviano

WARTA KOTA, JAKARTA - Puluhan rumah sakit swasta di Kota dan Kabupaten Bekasi menutup layanan poliklinik, Rabu (27/11). Sementara di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi, layanan poliklinik ditunda selama satu jam.

Penutupan dan penundaan sementara layanan puluhan poliklinik itu dilakukan sebagai aksi solidaritas atas kasus yang menimpa tiga orang dokter di Manado yang divonis malpraktek oleh Mahkamah Agung.

Di RSUD Kota Bekasi, layanan poliklinik yang biasanya buka pendaftaran mulai pukul 08.00, ditunda menjadi pukul 09.00. Antara pukul 09.00-10.00, puluhan dokter di rumah sakit milik Pemkot Bekasi itu menggelar aksi solidaritas.

Dengan mengenakan pita hitam di lengan kanan, puluhan dokter itu berdiri di depan poliklinik. Mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan: "Kami dokter, perawat dan seluruh aparatur RSUD Kota Bekasi Menolak Segala Bentuk Kriminalisasi Terhadap Profesi Dokter".

Anthony D Tulak, salah satu dokter senior di rumah sakit itu, yang juga Ketua IDI Kota Bekasi, mengatakan aksi digelar sebagai bentuk solidaritas.

"Kami berdiri disini untuk menyampaikan rasa keprihatinan sebagai sesama dokter. Kami sampaikan disini agar masyarakat tahu," ungkapnya.

Anthony mengatakan bahwa beban kerja dokter saat ini masih begitu tinggi, seharusnya dokter hanya melayani 30 pasien, namun kenyataannya sehari bisa 60 pasien lebih. Di RSUD Kota Bekasi tercatat ada 80-an dokter yang bertugas.

"Ini bertahun-tahun dialami, karena tekanan beban kerja bertambah. Ini juga harus dipikirkan. Kami nggak ada mogok, tapi menunda pelayanan saja," ungkapnya.

Sebagai Ketua IDI Kota Bekasi, Anthony menyatakan sudah menyampaikan surat dari Pengurus Pusat IDI dan Perhimpunan Dokter Spesialis yang menyampaikan imbauan kepada seluruh anggota IDI untuk melakukan aksi keprihatinan.

"Tetapi tetap melakukan pelayanan, yang bersifat emergency, kedaruratan, dan layanan bagi warga kurang mampu tetap diupayakan," imbuhnya.

Dari 34 rumah sakit di Kota Bekasi, kata Anthony, penyikapan terhadap surat edaran itu berbeda-beda, tergantung kebijakan manajemen masing-masing rumah sakit.

"Ada yang menerjemahkan dengan menutup semua poliklinik, ada yang hanya menutup poliklinik kebidanan, tapi sebagian besar tutup. IDI Kota Bekasi nggak bisa mencampuri. Kecuali untuk emergency, seperti operasi, melahirkan, itu tetap jalan," kata Anthony.

Aksi puluhan dokter itu sempat membingungkan beberapa pasien yang datang ke poliklinik RSUD.

"Saya mau periksa jadi bingung, padahal ini sudah dekat waktunya lahiran. Usia kandungan saya sudah sembilan bulan lebih," ungkap Suhartini (24).

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved