Breaking News:

resensi buku

Cengkeh, VOC, dan Nuku

Betapa penting peran Maluku bagi wilayah timur Indonesia pada masa lalu.

Repro Kompas
Buku Pemberontakan NUKU. 

Pelayaran ”hongi”
Di sisi lain, buku ini juga mengurai sejarah Maluku yang tidak lepas dari tradisi hongi, yaitu tradisi pelayaran perang di antara kekuatan-kekuatan lokal di Maluku jauh sebelum Belanda dengan VOC-nya hadir di Maluku. Pelayaran hongi adalah pelayaran armada perang yang terdiri atas puluhan kora-kora untuk berperang, menjarah, dan menyerang sekaligus mengontrol daerah taklukan.

Dalam menaklukkan kekuatan-kekuatan lokal di Maluku, pada awal abad ke-17, VOC mengambil alih tradisi hongi dan memodernkannya dengan kapal-kapal VOC yang dipersenjatai dengan alat yang lebih baik. Satu armada hongi terdiri atas 46 kora-kora ditambah dengan puluhan kapal VOC, yang keseluruhannya bisa lebih dari 100 kapal. Armada sebesar itu tujuannya satu, yaitu menebar teror dan menunjukkan kekuatan VOC kepada semua pihak di Maluku, khususnya Ternate dan Tidore.

Muridan dengan jernih menunjukkan bahwa taktik pertarungan Nuku dengan VOC adalah pertarungan laksana laksamana perang dengan bala hongi. VOC dengan armada hongi dan senjata modern, sementara Nuku dengan bala tentara lokal dengan semangat juang tinggi.

Buku Muridan ini menunjukkan bahwa arsip-arsip kolonial pada era klasik begitu penting untuk dikaji guna melihat dasar hubungan antarkomunitas di Nusantara yang kini menjelma menjadi Indonesia. Selain itu, juga berguna untuk memahami jejaring regional dari geopolitik Nusantara masa kini.

Amiruddin Al Rahab, Peminat sejarah dan kajian sosial politik Papua

Editor: Andy Pribadi
Sumber: KOMPAS
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved