ABG Villa Gading Itu Tak Diawasi Orangtuanya
Remaja yang baru berusia 17 tahun tewas karena mengemudikan motor gede (moge) sangat mengagetkan.
Mira D Amir,Psikolog Universitas Indonesia
Remaja yang baru berusia 17 tahun tewas karena mengemudikan motor gede (moge) sangat mengagetkan. Mengapa? Karena seorang remaja yang umurnya baru menginjak dewasa sudah mengemudikan moge yang menuntut keahlian mengemudi yang andal. Dengan demikian timbul dugaan di keluarga si remaja yang tinggal di Villa Gading Indah, Jakarta Utara itu ada yang tak beres.
Misalnya, komunikasi di keluarga itu kurang harmonis sehingga anak bisa bebas menunggang moge tanpa pengawalan orangtua. Peristiwa ini, kata Mira, mirip dengan kasus video porno yang membelit siswa sebuah SMPN di Jakarta Pusat yang heboh beberapa pekan lalu. Orangtua yang harus mendapatkan sorotan dalam peristiwa ini. Karena mereka yang harus bertanggung jawab.
Orangtua diduga kurang melakukan pengawasan terhadap anak-anaknya. Selain itu, orangtua juga tidak memahami keinginan anak akibat komunikasi keduanya tidak berjalan. Tersumbatnya komunikasi dalam keluarga ini menyebabkan lahirnya keluarga yang tak sehat. Kalau sehat, anak itu bisa menempatkan sesuatu pada porsinya. Apalagi jika dikaitkan peristiwa itu terjadi dini hari saat waktunya pelajar istirahat.
Dari kondisi itu, muncul pertanyaan kok bisa begitu? Kalau dari kecil sudah diberikan pemahaman dan aturan tak mungkin terjadi. Misalkan penjelasan kalau menunggang motor besar ini harus dengan pengawalan ayah, mungkin tidak akan demikian.
Peristiwa ini juga mengartikan kalau siswa itu sudah melanggar aturan jam malam yang diterapkan Pemerintah DKI Jakarta. Aturan jam malam ini, juga berperan besar dalam membentuk karakter masyarakat. Karena peraturan pemerintah ini membantu dalam membentuk anak yang sehat jasmani dan rohani.
Keluarga itu kan merupakan sistim terkecil, kalau skala besarnya itu pemerintah. Jadi peranannya memang sangat membantu sekali. Siswa SMA yang menunggangi kendaraan mewah ini sudah menjadi tren sejak dulu.
Tujuanya yakni meraih penghargaan sebutan gagah atau jantan dari komunitas gaulnya. Ini menjadi arena pembentukan identitas diri agar disebut gagah, macho dan jantan. Memang, kesannya penunggang motor gede itu jantan. Padahal dalam dirinya belum tentu siap mengendalikan motor gede itu. (nir)
Informasi lebih lengkap, silakan baca Warta Kota edisi Kamis (14/11/2013).