Pedagang Asongan Pasarminggu Minta Lapak Strategis
Kondisi Pasarminggu kini lebih humanis. Imej Kawasan Pasarminggu yang sebelumnya kumuh dan terkenal dengan macetnya lalu lintas kini berubah drastis.
Pasarminggu, Wartakotalive.com
Kondisi Pasarminggu kini lebih humanis. Imej Kawasan Pasarminggu yang sebelumnya kumuh dan terkenal dengan macetnya lalu lintas kini berubah drastis.
Para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang sebelumnya memenuhi jalan mulai dari sepanjang Jalan Raya Pasarminggu, pertigaan Jalan Ragunan Raya, depan stasiun hingga perlintasan Kereta Api Pasarminggu arah Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan kini sudah tidak terlihat lagi.
Pemandangan padat dan rapatnya PKL di putaran arah Jalan Raya Ragunan, tepatnya depan Robinson hingga depan Kelurahan dan Ramayana Pasarminggu kini juga bersih tidak tersisa.
Namun, beberapa pedagang asongan hingga pedagang makanan dan minuman ringan masih terlihat berjualan di sisi jalan, memanfaatkan lokasi kosong diluar trotoar jalan.
Seperti halnya Sri (53) dan anaknya, Rina (29) pedagang minuman dan gorengan yang menggelar lapak di balik pagar lahan parkiran Stasiun Pasarminggu, Jakarta Selatan.
Bermodalkan sebuah termos air panas, satu keranjang berisi beragam air mineral dan teh gelas, serta satu buah nampan berisi aneka gorengan, keduanya mulai menjajakan dagangan dari balik jeruji besi pagar.
Lewat jeruji besi yang hanya selebar satu jengkal tangan itu pula, gelas-gelas kopi dan gorengan diserahkan ke setiap pembeli dengan sabar. Walaupun diakuinya, pembelinya bisa dengan mudah pergi meninggalkan dirinya tanpa harus membayar terlebih dahulu.
Walau terbilang masih baru yakni sekitar empat hari menempati lapak di sebelah pintu gerbang utama stasiun, keduanya sudah terlihat sangat cekatan menangkap stok gorengan ataupun minuman ringan dalam kardus yang dilemparkan temannya melewati pagar setinggi dua meter itu.
Meski terbilang berbahaya, aksi yang sempat menarik banyak perhatian warga ini diakuinya sangat aman. Selain itu, katanya, dirinya juga sudah terlatih dan terbiasa melempar tangkap barang dagangan semenjak berjualan di dalam peron stasiun dulu.
"Itu mah nggak pakai belajar, tinggal tangkep aja, kan udah biasa juga dulu waktu jualan di dalam. Lagipula kan kalau nganternya masuk ke dalam parkiran lumayan jauh jalannya," jelasnya saat ditemui Wartakotalive.com di lapaknya, Kamis (26/9/2013) siang.
Wajah keduanya terlihat tenang. Hal ini diakuinya karena Satpol PP yang sebelumnya berjaga di depan Stasiun Pasarminggu sudah mulai berangsur menghilang sejak seminggu lalu.
Berbeda dengan minggu-minggu pertama saat Satpol PP memporakporandakan lapak-lapak pinggir jalan para PKL pada awal bulan Agustus 2013 lalu. Kondisi penjagaan di beberapa lokasi kawasan Pasarminggu kini terlihat lebih lengang dengan hanya beberapa orang petugas saja yang berpatroli.
Sri yang terlihat asik menyusun gorengan tahu, bakwan, tempe dan combro itu mengaku was-was akan keadaannya saat ini, sebab dirinya secara jelas memang dilarang menggelar lapak berjualan di atas trotoar, pelataran bagian depan dan dalam stasiun.
"Sebelumnya saya jualan di dalam peron, tapi diusir keluar. Sampai di luar stasiun, jualan sudah enak, tapi diusir lagi ke samping stasiun bareng tukang buah. Penertiban terakhir yang saya nggak setuju, kita dipindah ke lantai dua parkiran gedung Pasarminggu," jelasnya.
Sebanyak tiga kali dirinya dibimbing oleh petugas dari Kelurahan Pasarminggu untuk melakukan pendaftaran guna menempati lapak berukuran 1,5 x 2 meter persegi tersebut. Namun, karena terbilang sepi pengunjung, dirinya pun mengaku enggan untuk masuk dan berjualan bersama pedagang buah di lokasi tersebut.
"Walaupun lapaknya gratis, tapi siapa yang mau beli kalau sepi orang begitu. Soalnya juga kita jualan cuma seadanya, gorengan sama aqua (air mineral), kopi sama teh gelas doang, beda sama pedagang lain-lainnya yang dicari pembeli kalau dipindah tempat yang baru," jelasnya.
Diinginkannya, agar pemerintah bisa memberikan lapak-lapak strategis di wilayah sekitar Stasiun Pasarminggu. Karena, menurutnya, selain menata PKL lebih baik lagi, kesempatan PKL untuk berusaha juga tetap terjamin.
Sementara itu, Kepala Seksi Operasional Satpol PP Jakarta Selatan, Bambang mengatakan, pihaknya akan terus menertibkan PKL yang masih mencoba berjualan di ruang terbuka umum.
Karena, menurutnya, pihak PD Pasar Jaya maupun UMKM sudah memberikan lapak-lapak secara gratis di dalam gedung PD Pasar Jaya maupun di Lokasi Binaan (Lokbin) Pasarminggu.
"Sesuai ketentuan, bagi siapa saja yang terbukti berjualan di jalan akan disita barang dagangannya dan disidang dalam Tipiring (Tindak Pidana Ringan) di Kelurahan. Pedagang akan dikenai denda dan barang dagangannya tidak akan dikembalikan," jelasnya.