Minggu, 12 April 2026

Anomali Cuaca

Petani Butuh Kemampuan Baru Membaca Iklim

Ketidakjelasan batas musim membingungkan petani. Pengenalan iklim dapat membantu petani mengatur pola tanam, jenis komoditas tanam setiap musim, hingga ancaman hama.

|

Semarang, Wartakotalive.com

Ketidakjelasan batas musim membingungkan petani. Pengenalan iklim dapat membantu petani mengatur pola tanam, jenis komoditas tanam setiap musim, hingga ancaman hama.

Perhitungan tradisional petani terkait iklim, yang sering disebut pranata mangsa, saat ini tak bisa lagi dijadikan acuan. Sebab, kondisi cuaca terus bergeser dari tahun ke tahun.

Tahun ini, iklim tahunan cenderung basah. Bahkan, musim kemarau diperkirakan berakhir akhir September. Itu mendorong petani terus menanam padi.

”Mau tidak mau petani akan menanam padi. Memang akibatnya tidak ada penggiliran tanam dengan palawija,” kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Tengah Suryo Banendro, Selasa (17/9).

Kecenderungan iklim sebenarnya bisa diperkirakan melalui perhitungan terhadap curah hujan tahunan, struktur tanah, dan agroekosistem. ”Untuk itu, penyuluh pertanian sebagai pendamping petani harus berperan optimal. Ini masih jadi hambatan karena selain persoalan kapasitas sumber daya manusia, ketersediaan penyuluh juga minim,” katanya.

Suryo mendorong optimalisasi Sekolah Lapang Iklim (SLI) kepada para petani. Terbukti, petani-petani yang mengikuti SLI lebih mampu membaca kondisi iklim sehingga dapat menentukan jenis komoditas tanaman pada musim tanam berikutnya.

Terkait kekeringan di Jateng, Suryo memaparkan, hingga Agustus kekeringan melanda 1.444 hektar sawah. Namun, dibandingkan dengan lahan tanam di provinsi itu yang mencapai 1,4 juta hektar, luasan kekeringan tersebut dinilai tak berdampak signifikan terhadap produksi padi. ”Dari lahan kekeringan itu, yang sudah tercatat puso baru 4 hektar di Kendal,” ujarnya.

Salah perkiraan
Sementara itu, pengurus Kelompok Tani Gemah Ripah Kecamatan Susukan, Banjarnegara, Tarmudi, mengatakan, selama beberapa tahun terakhir ini pranata mangsa sulit dipastikan akurasinya. Pada Desember-Januari yang dalam pakemnya merupakan puncak musim hujan sering tak terjadi. Sebaliknya, awal April yang mestinya memasuki mongso marengan (awal musim kemarau) justru masih turun hujan besar seperti terjadi tahun ini.

”Petani tak bisa lagi mengacu pranata mangsa, padahal puluhan tahun berpegang pada pakem itu. Hal ini menyulitkan mereka beradaptasi,” kata Tarmudi.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Peternakan Banjarnegara Dwi Atmaji mengatakan, 58 hektar lahan padi yang kekeringan di wilayah itu kebanyakan akibat kesalahan masa tanam. ”Petani memperkirakan masih ada hujan, ternyata tidak ada lagi, sedangkan saluran irigasi mengering,” ujarnya. (GRE)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved