Banyak Cat Rumah Masih Bertimbal

Penelitian BaliFokus terhadap 78 sampel cat yang dijual di Indonesia menunjukkan kandungan timbal atau timah hitam dalam konsentrasi membahayakan.

Editor: Andy Pribadi

Palmerah, Wartakotalive.com

Penelitian BaliFokus terhadap 78 sampel cat yang dijual di Indonesia menunjukkan kandungan timbal atau timah hitam dalam konsentrasi membahayakan. Cat-cat jenis itu meningkatkan kecerahan warna sehingga banyak digunakan untuk melapis dinding sekolah.

”Temuan timbal di dalam cat enamel dekoratif itu mengejutkan karena penggunaan timbal dalam produksi cat mulai ditinggalkan sebagian besar produsen cat sejak puluhan tahun lalu,” kata I Gde Armyn Gita dari BaliFokus, Jumat (23/8), di Jakarta. BaliFokus merupakan organisasi nonprofit yang fokus pada pengelolaan limbah cair, khususnya di Bali dan NTB.

Kajian itu tercantum dalam ”Laporan Nasional: Timbal dalam Cat Enamel Rumah Tangga di Indonesia” yang dirilis Agustus 2013. Penelitian disponsori Asian Lead Paint Elimination Project. Asian Lead Paint Elimination Project dilaksanakan IPEN, jaringan LSM global untuk perlindungan kesehatan dan lingkungan, selama periode tiga tahun di tujuh negara, yaitu Banglades, Filipina, India, Indonesia, Nepal, Sri Lanka, dan Thailand, dengan dukungan finansial dari Uni Eropa total 1,4 juta euro.

Laporan itu menyebutkan, ke-78 sampel berasal dari 43 merek yang dibeli pada periode Agustus 2012-Maret 2013. Umumnya cat yang dibeli berbahan dasar minyak. Delapan di antaranya merupakan pemimpin produk cat di Indonesia.

Rata-rata kadar timbal dalam cat dari merek-merek buatan kedelapan perusahaan itu 100 part per million (ppm)-57.500 ppm. Ini jauh lebih besar dibandingkan batas atas timbal dalam kandungan cat di AS yang 90 ppm.

Armyn mengatakan, hingga kini Indonesia belum membatasi kandungan timbal dalam cat yang diperjualbelikan atau diproduksi di Indonesia. Cat mengandung timbal menjadi berbahaya ketika lapuk, terkikis, dan mengontaminasi tanah atau air.

Saat laporan ini disosialisasikan ke produsen cat, kata Armyn, kesadaran meninggalkan penggunaan timbal sudah muncul. Namun, alasan biaya produksi masih muncul. ”Penelitian kami, ada produsen cat lokal yang memiliki produk cat rendah timbal karena kemampuan efisiensi menyiasati keuangan. Jadi, masalah biaya seharusnya tak jadi masalah untuk produsen lebih besar,” ujarnya.

Bahaya timbal
Dihubungi secara terpisah, Suyatno, ahli kesehatan masyarakat khusus pada anak-anak dari Universitas Diponegoro, Semarang, mengatakan, timbal sangat berbahaya apabila terpapar pada anak-anak. ”Bisa menyebabkan kejang hingga penurunan kecerdasan pada anak,” katanya.

Anak-anak rentan paparan logam berat dan berpengaruh terhadap masa depannya. Paparan logam berat juga memengaruhi pembentukan sel darah merah dan menurunkan fungsi ginjal.

”Aturan terkait kadar timbal dalam cat sudah ada. Tinggal penegakan peraturannya saja yang belum baik,” kata Suyatno.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian Benny Wahyudi mengatakan, cat sekarang masih mengandung timbal, terutama untuk penggunaan luar yang tak bersentuhan dengan manusia. ”Khusus untuk yang sensitif, misalnya mainan anak, sudah dilarang,” ujarnya.

Menurut Benny, pihaknya sedang merevisi beberapa Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk cat. Dalam SNI cat akan dimasukkan syarat kandungan maksimal logam berat, termasuk timbal. ”Tahun depan akan dibuat aturan SNI wajibnya.” (ICH)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved