Values, Sumber Kekuatan Perusahaan
Perusahaan besar yang mampu tumbuh, berkembang, dan bertahan lama ternyata didukung oleh kuatnya penanaman tata nilai.
Palmerah, Wartakotalive.com
Perusahaan besar yang mampu tumbuh, berkembang, dan bertahan lama ternyata didukung oleh kuatnya penanaman tata nilai. Tata nilai tersebut melekat, diimplementasikan, dan dijunjung tinggi oleh seluruh pegawai, manajemen, hingga para pemangku kepentingan.
Kehadiran values yang dikemas dengan apik terbukti membuat organisasi berkarakter dan mampu menunjukkan eksistensinya sehingga membentengi perusahaan dari berbagai krisis. Corporate values atau tata nilai perusahaan merupakan kumpulan nilai yang dipercayai sebagai kekuatan dalam mengintegrasikan sistem, struktur, proses, dan strategi dalam mencapai tujuan jangka panjang.
Tata nilai dapat berupa alat atau tujuan yang secara individu atau bersama-sama dijadikan pegangan. Nilai-nilai (values) merupakan kepercayaan yang ditetapkan dalam seluruh tatanan kehidupan, menembus batas obyek, manusia, dan situasi.
| INFO BUKU |
| • Judul: Cracking Values: Bersih, Bersinar, dan Kompetitif • Penulis: Rhenald Kasali • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2012 • Tebal Buku: xiv + 225 halaman • ISBN: 978-979-22-9109-4 |
Budaya perusahaan
Tata nilai perusahaan adalah jiwa yang membentuk alam bawah sadar sebuah organisasi untuk bekerja dengan energi positif secara refleks dan sistemik. Tata nilai perusahaan dapat membuka ruang inovasi, produktivitas dan kredibilitas, serta kesinambungan perusahaan. Dengan jiwa yang dimiliki, organisasi tersebut akan memiliki ruang untuk berekspresi menciptakan peluang dan potensi bisnis.
Lalu, apa kaitan values dengan budaya perusahaan? Dalam buku ini dijelaskan, jika nilai-nilai telah menjadi pedoman yang mengatur setiap perilaku pegawai dan pimpinan dalam perusahaan tersebut dan berlangsung secara terus-menerus sehingga menjadi kebiasaan yang hidup dan berkembang di dalam perusahaan, nilai-nilai itu telah menjadi budaya perusahaan (corporate culture).
Para ahli perilaku menyimpulkan, apa yang diperbuat manusia pada dasarnya mencerminkan apa yang dipikirkannya. Sementara apa yang dipikirkan seseorang merupakan refleksi dari nilai-nilai yang dianutnya. Sejumlah studi menemukan orang-orang yang hanya mampu menjalankan ketulusan (being authentic) dan niat yang baik adalah mereka yang memiliki core value (Bryant, Kazam, 2013). Value bekerja sebagai ”bingkai pilihan” tingkat tinggi (high level ”frame of mind”) yang membentuk jati diri seseorang.
Bila nilai-nilai dan norma ini telah tertanam menjadi budaya, perusahaan pun akan menjadi semakin kokoh. Perusahaan yang kokoh akan lebih mampu bertahan dalam menghadapi persaingan bisnis sekeras apa pun. Sebagai contoh, Blue Bird Group adalah salah satu perusahaan yang boleh dianggap berhasil dalam menanamkan tata nilai sehingga akhirnya berkembang menjadi budaya perusahaan. Blue Bird berhasil menanamkan pentingnya sikap jujur dan pelayanan sebagai salah satu nilai yang harus dimiliki oleh seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut. Blue Bird menjadikan keberhasilannya sebagai alat untuk masuk ke pasar bisnis taksi tarif atas yang nyaris tanpa pesaing (hal 214).
Membuat tata nilai
Bagaimana cara perusahaan membuat tata nilai? Tata nilai umumnya digariskan secara struktural dari pimpinan perusahaan atau bisa juga melalui pembentukan tim yang diterjunkan khusus untuk merajut nilai berdasar filosofi pendiri perusahaan dan nilai baru sesuai perubahan dan kondisi persaingan bisnis.
Setelah pemetaan tata nilai tercipta, tahap berikutnya ialah bagaimana menjadikan tata nilai tersebut sebagai sebuah konsensus yang disepakati bersama, yaitu melalui pertama, tata nilai itu harus diyakini, dijalankan, dan dijadikan filosofi perusahaan oleh pendiri, penerus, dan tokoh-tokoh kunci. Kedua, tata nilai tersebut harus dikomunikasikan dan dilatih kepada setiap insan yang ada di dalam perusahaan. Melalui kesadaran, pemahaman, dan keterlibatan, akhirnya bermuara pada komitmen pegawai tentang nilai-nilai perusahaan yang dimiliki. Ketiga, membangun sistem atau aturan yang lebih detail mengenai tata nilai korporasi, baik yang bersifat tertulis maupun yang tidak tertulis. Sistem ini harus dilengkapi dengan pemberian penghargaan dan sanksi. Keempat, kepemimpinan. Perlu adanya sosok yang memegang komando dalam penerapan tata nilai yang ada. Pemimpin harus mampu berperan sebagai contoh dan memainkan peran kunci dalam membangun tata nilai dan budaya.
Dampak dari implementasi nilai perusahaan adalah pegawai akan mendemonstrasikan tata nilai perusahaan dalam perilaku di lingkungan kerja, pengambilan keputusan, dan interaksi sosial dalam perusahaan. Tidak hanya di tataran pegawai, nilai juga akan menjadi buku panduan bagi setiap pegawai di dalam perusahaan tersebut, dari level manajer, direksi, hingga pemilik perusahaan sekalipun.
Seperti kita ketahui bersama, resesi ekonomi global terjadi di Amerika dan kawasan Eropa. Salah satunya disebabkan oleh banyaknya perusahaan yang mengesampingkan keberadaan tata nilai sehingga memicu sifat serakah, tamak, manipulatif, korup, dan kecurangan yang merusak keseimbangan sistem nilai ekonomi korporasi dan berdampak pada jurang kebangkrutan negara. Kasus Enron, Worldcom, skandal manipulasi LIBOR yang melibatkan Barclays Inggris (2012) menjadi bukti penguat bahwa nilai-nilai perusahaan merupakan alat kontrol bagi keberlangsungan sebuah organisasi.
Sebagian besar perusahaan yakin bahwa nilai-nilai memengaruhi dua area strategis yang penting, yakni hubungan baik dan reputasi. Namun, tidak terlihat dampaknya secara langsung pada pertumbuhan pendapatan dan laba. Salah satu penyebabnya adalah karena nilai-nilai, terutama kejujuran, keterbukaan, dan entrepreneurship bersifat tidak kasatmata (intangible). Kemampuan alat-alat penghitung nonfinansial paling canggih pun ternyata masih terbatas untuk mengukur hubungan yang tepat antara nilai-nilai yang intangible dan pertumbuhan pendapatan dan laba.
Jika diterapkan dengan benar, tata nilai terbukti mampu membantu perusahaan mencapai target-targetnya. Selain itu, penanaman tata nilai yang kuat juga dapat membentuk karakter perusahaan sehingga bisa menjadi perisai untuk mengurangi berbagai risiko yang mungkin timbul di kemudian hari.
Chandra Bagus Sulistyo, Praktisi Perbankan BUMN