Pasar Rakyat, Ya, Pasar Gambir

Pasar Malam Gambir atau Pasar Gambir bermula dari Koninginnedag atau Hari Ratu. Awalnya digelar untuk merayakan penobatan Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus 1898.

Sementara itu, Pasar Gambir di Indonesia dihidupkan kembali tahun 1968 di masa Presiden Soeharto dan Gubernur DKI Ali Sadikin. Namanya berubah menjadi Djakarta Fair (dan berubah lagi menjadi Jakarta Fair hingga Pekan Raya Jakarta) dan digelar pada bulan Juni-Juli sebagai perayaan HUT Jakarta. Lokasi pasar malam ini tak terlalu jauh berbeda dari Pasar Gambir, yaitu Lapangan Monas.

Pengisi acara pada Djakarta Fair atau pun Jakarta Fair masih mengikuti konsep Pasar Gambir, menampilkan produk tradisional, lokal juga hal-hal unik. Intinya meningkatkan pemasaran produksi dalam negeri.

Waktu bertambah, segalanya berubah. Jakarta Fair yang semula menempati lahan tujuh hektar di kawasan Monas dinilai tak lagi mampu menampung peserta pameran dan pengunjung. Tak hanya itu, pasar malam dengan segala yang berbau tradisional dan pesta rakyat lambat laun berubah menjadi ajang pameran modern. Maka pada 1992 perhelatan ini pindah ke Kemayoran dengan lahan seluas 44 hektar.

Jika Pasar Gambir di tahun 1929 dikunjungi sekitar 117 ribu orang selama sepekan maka pergelaran yang sudah berubah menjadi Pekan Raya Jakarta (PRJ) ini pada 2011 didatangi lebih dari empat juta manusia selama 32 hari atau 125 ribu orang per hari.

Rupanya, Gubernur DKI Jakarta Jokowi menginginkan konsep pasar malam rakyat dikembalikan. Belum lama ini ia menegaskan akan mengembalikan PRJ ke tempat asalnya, Koningsplein, serta memberi kesempatan pada produk lokal dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Keroncong Pasar Gambir pun sayup-sayup kembali terdengar…“Pasar Gambir, Kota Betawi… Ai Kota Betawi …Ai indung disayang, sampai di Gambir, Nona…Sampai di Gambir, Nona, membeli pala...”

(Pradaningrum Mijarto)
 

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved