Karya Sastra Klasik
"Seperti ikan melihat umpan, orang berduyun-duyun pergi ke Pasar Malam Rakutenci. Umpan dimakan, langit-langit tersangkut, diangkat orang ke atas…mati."
“Seperti ikan melihat umpan, orang berduyun-duyun pergi ke Pasar Malam Rakutenci. Umpan dimakan, langit-langit tersangkut, diangkat orang ke atas…mati. Semua orang kelihatan gembira, tetapi baju mereka kelihatan tipis-tipis dan pudar. Mereka berjalan tergesa-gesa seperti pemuda pergi ke rumah tunangannya. Pada tonggak pintu gerbang tertulis dengan huruf besar-besar seperti pada tugu peringatan: Dengan bantuan Sendenbu…”
Begitulah Abdullah Idrus atau biasa disebut Idrus saja, pengarang klasik Indonesia, menggambarkan suasana pasar malam di Prinsenpark pada masa Jepang. Rakutenci yang lebih dikenal dengan nama Prinsenpark alias Lokasari (di masa kini) memang selalu jadi tempat hiburan.
Pada masa Jepang, dunia perfilman Indonesia mati karena semua perusahaan film ditutup. Film hanya digunakan untuk propaganda. Seniman film pun kembali ke akar, tonil atau sandiwara yang naskahnya disensor ketat oleh Sendenbu (Badan Propaganda).
Petikan cerpen di atas diambil dari buku cerpen berjudul Pasar Malam Zaman Jepang dari buku Dari Ave Maria Ke Jalan Lain ke Roma yang terbit pertama kali tahun 1948 di bawah bendera Balai Pustaka. Buku itu adalah satu dari delapan karya sastra klasik seri Indonesia Cultural Heritage edisi premium, hanya dicetak sebanyak 3.000 paket seharga Rp 2.150.000/paket.
Tujuh karya sastra klasik lainnya adalah Azab dan Sengsara (Merari Siregar, 1920); Salah Pilih (Nur Sutan Iskandar, 1928); Sitti Nurbaya (Marah Rusli, 1920); Layar Terkembang (St Takdir Alisjahbana, 1936); Atheis (Achdiat K Mihardja, 1949); Salah Asuhan (Abdoel Moeis, 1928); Habis Gelap Terbitlah Terang (RA Kartini) terjemahan Armijn Pane (1938).
Penerbitan buku klasik ini tak lain dalam rangka pelestarian budaya, terlebih nilai budaya. Kiprah Balai Pustaka dan perjalanan sastra klasik Indonesia, dimulai awal abad 20. Karya sastra yang biasanya muncul dalam nada antipenjajahan itu sudah sering terbit di surat kabar dan majalah.
Kebanyakan adalah karya sastra orang-orang Tionghoa peranakan yang ditulis dalam bahasa Melayu Tionghoa dan Melayu Pasar atau disebut Melayu Rendah. Pemerintah Hindia Belanda menilai tulisan yang beredar di media cetak itu tak lain hanyalah bacaan liar yang berbahasa rendah dan bertentangan dengan politik kolonial.
Melihat kenyataan ini, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk menerbitkan bacaan yang layak bagi kaum pribumi. Berdasarkan keputusan Departement van Onderwijs en Eeredienst No 12, maka pada 14 September 1908 dibentuklah Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat - KBR). Komisi ini beranggotakan enam orang dengan ketua G A J Hazeu dan bertugas memilih bacaan yang sesuai untuk rakyat Hindia Belanda.
Dari hanya menerbitkan bacaan ringan, KBR berkembang dengan menyediakan buku cerita rakyat, hikayat, dongeng, hingga buku-buku terjemahan novel berbahasa Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, juga Arab. Buku-buku tentang Islam seperti Masdjid dan Makam Doenia Islam pun diterbitkan KBR.
Terbitnya novel-novel barat dalam bahasa Melayu punya pengaruh besar pada penulis pribumi. Alhasil karya-karya lokal mulai menggunakan gaya penulisan barat. Salah satu roman yang menonjol saat itu adalah roman Sunda berjudul Baroeang Ka Noe Ngararo (Racun Bagi Kaum Muda) karya D K Ardiwinata tahun 1914.
Setelah itu berbagai buku tentang ketrampilan, pertanian, tanaman, teknik, pendidikan, dan kesehatan pun muncul. Semua buku terbitan KBR menggunakan bahasa baku yang menggunakan ejaan van Ophuijsen (perancang ejaan bahasa Melayu tahun 1901). Bahasa itulah yang digunakan di sekolah Melayu dan dianggap sebagai bahasa Melayu Tinggi karena tata bahasanya ditetapkan oleh para ahli bahasa.
Ketika jumlah penerbitan makin membengkak, dan perlu tambahan sumber daya manusia, pemerintah Belanda kemudian mengembangkan KBR menjadi institusi tersendiri. Maka keluarkah keputusan No 63 tanggal 22 September 1917 tentang Pembentukan Kantoor voor de Volkslectuur yang dipimpin oleh Hoofdambtenaar, seorang kepala kantor, bernama DA Rinkes. Lembaga inilah yang kemudian kita kenal sebagai Balai Poestaka. Dalam enam tahun pertama, KBR sudah menerbitkan 153 judul buku