Jelajah Museum

Orang Minahasa Melawan Hingga Darah Penghabisan

Diorama mengenai kisah perjuangan perang Minahasa ini, bisa kita saksikan di Museum Keprajuritan Indonesia, komplek Taman Mini Indonesia Indah.

|

Pondokgede, Wartakotalive.com

Hubungan baik antara Walak (kepala suku) dan Belanda di Minahasa berlangsung cukup lama. Di mata rakyat Minahasa, orang Belanda adalah sahabat yang mampu membebaskan penderitaan rakyat Minahasa dari penindasan Spanyol.

Pada masa pemerintahan Daendels dibutuhkan tambahan tenaga prajurit untuk mempertahankan wilayah jajahan Belanda di Indonesia, dari kemungkinan serbuan Inggris. Kepada daerah Minahasa dijatahkan penambahan pemuda Minahasa sebanyak dua ribu orang.

Belanda mengadakan pendekatan dengan para Walak di Minahasa, namun para Walak menolak permintaan Belanda. Mereka menganggap penempatan para pemuda Minahasa sebagai prajurit hanya sebuah alasan semata, yang pada akhirnya mereka akan dijadikan tenaga kerja paksa.

Menghadapi tindak kekerasan Belanda, para Walak di Minahasa bersatu di bawah pimpinan Lonto dan Matulandi menyusun kekuatan untuk menghadapi segala kemungkinan tindak kekerasan Belanda. Persiapan diadakan di Tondano. Di sekitar Tondano, mereka mendirikan dua buah benteng, yaitu Maraya dan Paapal di ujung barat Danau Tondano.

Mengetahui adanya persekutuan antar para Walak Minahasa yang bisa membahayakan kedudukannya, maka Belanda mengadakan tak-tik andalan mereka, yakni politik adu domba. Bagi Belanda, perpecahan antara Walak adalah kesempatan yang baik untuk melancarkan secara ofensif serangan militer ke Tondano.

Pertempuran besar pecah pada tanggal 5 Agustus 1809. Pertempuran ini, digadang-gadang menjadi pertempuran atau perang modern pertama di Indonesia di mana pihak Belanda mendapat perlawanan sengit dari waranei-waranei dan wulan-wulan Minahasa yang mahir menggunakan senjata meriam buatan Spanyol, meriam bambu (lantaka), senapan api, dan senjata tajam lainnya.

Para prajurit Minahasa banyak yang berguguran, seluruh kawasan danau dan sungai penuh dengan darah (Moraya). Setelah melalui suatu pertempuran yang dahsyat dan membawa korban pada kedua belah pihak, benteng Moraya direbut kembali oleh Belanda.

Kapten Winter yang memimpin penyerbuan ke Benteng Moraya, dikabarkan sempat membuka topi perwiranya sebagai tanda rasa hormatnya di hadapan mayat-mayat pahlawan orang Tondano yang bertahan di benteng Moraya, sambil berkata, “mereka yang korban ini adalah patriot-patriot sejati”.

Demikianlah, keberanian orang Minahasa dalam menghadapi penjajah Belanda. Meski darah dan nyawa menjadi pertaruhannya, mereka tetap berjuang sampai titik penghabisan.

Diorama mengenai kisah perjuangan perang Minahasa ini, bisa kita saksikan di Museum Keprajuritan Indonesia, komplek Taman Mini Indonesia Indah. Selain peperangan Minahasa, di lantai dua bangunan museum itu juga banyak digambarkan mengenai peperangan di berbagai daerah di Indonesia, yang selama ini tidak banyak diketahui oleh masyarakat.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved