JELAJAH MUSEUM

Mengenang Pertempuran di Indraprata Aceh 1606

KAMI masih mengamati dan mempelajari satu persatu diorama yang terdapat di lantai dua Museum Keprajuritan Indonesia.

|

KAMI masih mengamati dan mempelajari satu persatu diorama yang terdapat di lantai dua Museum Keprajuritan Indonesia. Diorama-diorama di sini masih bertema sama, yakni mengenai peristiwa-peristiwa peperangan yang menimpa kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Setelah sebelumnya kami mengupas peristiwa peperangan antara Kesultanan Ternate dan Portugis di Benteng Sao paolo, kali ini kita akan mengingat peristiwa yang terjadi di Kesultanan Aceh.

Pada tahun 1511 orang Portugis di bawah pimpinan Alfonso D’Albuquerque menduduki Bandar Malaka, pusat perdagangan rempah-rempah di Asia. Pedagang-pedagang Islam memindahkan perdagangannya ke tempat lain, terutama di Aceh. Kerajaan yang letaknya strategis di selat Malaka itu mengalami kemajuan yang pesat. Sultan Alaudin Riayatsyah memanfaatkan keadaan itu untuk memperkuat armada Aceh.

Kemajuan Aceh, ternyata menjadi ancaman bagi bangsa Portugis, sehingga antara dua kekuatan ini sering terjadi bentrokan bersenjata. Ketegangan antara Aceh dan Portugis memuncak dalam masa Pemerintahan Sultan Al Mukamil. Di bawah penggantinya, Sultan Ali Riayatsyah terjadi pertentangan di dalam negeri. Situasi ini dimanfaatkan oleh Portugis yang dipimpin oleh Martin Alfonso de Dasctro untuk menyerang Aceh. Pada Juni 1606, armada Portugis melancarkan serangan ke Aceh dan berhasil menduduki benteng Indraprata. Dari sini, pasukan Portugis berusaha untuk merebut Aceh Darrusalam.

Darmawangsa Tun Pangkat atau Perkasa Alam, kemenakan Sultan yang ketika itu dipenjara , menawarkan diri untuk memimpin angkatan perang Aceh. Sultan mengijinkanya. Dengan pasukan yang cukup kuat, ia berhasil merebut kembali benteng Indraprata dan mengusir armada Portugis dari perairan Aceh. Setahun kemudian, ia diangkat menjadi Sultan Aceh dengan gelar Sultan Iskandar Muda.

Aceh mengalami kemajuan pesat pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607- 1636). Pada masa pemerintahannya, Aceh mencapai zaman keemasan. Aceh bahkan dapat menguasai Johor, Pahang, Kedah, Perak di Semenanjung Melayu dan Indragiri, Pulau Bintan, dan Nias. Di samping itu, Iskandar Muda juga menyusun undang-undang tata pemerintahan yang disebut Adat Mahkota Alam. Setelah Sultan Iskandar Muda, tidak ada lagi sultan yang mampu mengendalikan Aceh.

Aceh mengalami kemunduran di bawah pimpinan Sultan Iskandar Thani (1636- 1641). Dia kemudian digantikan oleh permaisurinya, Putri Sri Alam Permaisuri (1641- 1675). Sejarah mencatat Aceh makin hari makin lemah akibat pertikaian antara golongan teuku dan teungku, serta antara golongan aliran syiah dan sunnah wal jama’ah. Akhirnya, Belanda berhasil menguasai Aceh pada tahun 1904.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved