Minggu, 26 April 2026

Rizal Hafid: Usaha Serabutan Menghidupi Sepak Bola

Nama Rizal Hafid bagi pencinta sepak bola di wilayah Jakarta Utara tentu bukan nama yang asing. Maklum saja, dia adalah Ketua Umum Persitara periode 2010-2014.

|

Palmerah, Wartakotalive.com

Nama Rizal Hafid bagi pencinta sepak bola di wilayah Jakarta Utara tentu bukan nama yang asing. Maklum saja, dia adalah Ketua Umum Persitara periode 2010-2014. Kecintaannya terhadap sepak bola membuat dia rela jatuh-bangun dan kehilangan materi demi Persitara. Meski pun pada akhirnya dia dilengserkan dari klub sepak bola tersebut baru-baru ini.

Bermain bola sudah menjadi bagian hidup dari Rizal Hafid. Sejak kecil di kampungnya di Makassar, Sulawesi Selatan, bermain bola adalah kegiatan yang tidak bisa terpisahkan..

"Ini semua demi kepuasan batin. Tidak ada keuntungan mengurus bola. Hanya orang gila yang mau pegang bola," ujar pria berusia 47 tahun ini saat ditemui di restoran Atrium Mal, medio November lalu.

Hanya saja hobi "merumputnya" itu terhenti karena dia memperjuangkan keinginannya untuk menjadi polisi. Namun jalan hidup Rizal ternyata tidak membawanya menjadi penegak hukum. Dua kali dia mengikuti tes ujian masuk Akademi Polisi (Akpol), Rizal yang sering disapa Daeng ini selalu mengalami kegagalan. Kegagalan itu membuatnya frustasi dan hijrah ke Jakarta.

Di kota metropolitan ini Rizal berkenalan dengan dunia baru yang belum pernah dikenalnya, yakni usaha ekspor-impor furniture. Selama dua tahun, 1987-1988, karier Daeng di bisnis furnitur melesat. Dia pun dipercaya menjadi wakil direktur di PT Mahkota Maju Sejahtera, perusahaan furniture dengan gaji Rp 5 juta per bulan waktu itu.

Sejak memegang perusahaan furniture ini Daeng menjadi percaya diri dan mulai merambah berbagai bidang. Usahanya apa saja selama menghasilkan uang. Dengan kata lain, dia menjadi pengusaha serabutan.

Misalnya, dia pernah melakoni bisnis batubara dan menjadi broker besi tua. Hanya saja kedua bidang ini tidak bertahan lama. Alasannya, karena persaingan yang membuat dia memutuskan untuk berhenti sebagai broker besi tua.

"Kalau besi tua itu kita kalah sama pesaing yang memang usahanya berkelompok dan kompak. Karena dilawan dengan kelompok, ya nyerah juga. Belum lagi saya nggak punya lahan untuk menampung limbah besinya itu. Jadi hanya sebatas broker saja," ujar Daeng.

Penyelenggara musik

Di perusahaan ekspor-impor furnitur Daeng tidak sampai menduduki posisi tertinggi. Dia memutuskan keluar dan mendirikan perusahaan event organizer (EO) bersama beberapa temannya asal Makassar yang merantau ke Jakarta. Usaha barunya yang diusung dengan memakai bentuk CV itu membawanya menggelar show atau konser musik yang melibatkan artis terkenal Ibu Kota ke berbagai daerah, dengan menjual karcis masuk.

Kegiatan ini berjalan sampai dua tahun dengan keuntungan yang luar biasa. Dalam satu bulan dirinya bisa membawa para artis ke tiga sampai empat daerah berbeda. Saat itu, kata Rizal, perusahaan EO itu menggunakan nama Camar karena didirikan secara berkelompok.

Camar sudah bisa mempekerjakan 20 orang karyawan yang digaji berdasarkan bagi hasil. Puluhan pekerja itu memiliki tugas berbeda-beda, mulai dari mencari peserta, pengurusan izin, sampai mencari sponsor.

"Satu bulan kita bisa dapat Rp 100 juta lho. Saat itu mencari uang di EO begitu indahnya karena memang belum ada pesaingnya. Kalau sekarang wah, paling (dapat) setengahnya juga sudah hebat," ujarnya.

Nama Camar, kata Daeng, merupakan nama buah pikirannya yang disetujui oleh lima rekan lainnya. Camar itu merupakan akronim dari "Cari Makan Ramai-ramai". Lantaran waktu itu hampir seluruh anggotanya masih lajang, sehingga duit puluhan juta itu tidak terasa.

"Namanya juga masih muda, duit mudah diperoleh habisnya juga gampang. Gaya hidupnya sudah seperti bos saja," ujarnya.

Artis lawas

Rizal masih ingat betul siapa saja artis yang pernah diajaknya show ke daerah ataupun hotel berbintang. Dia menyebutkan nama Dorce, Darto helm, Bagio, grup lawak Dono, Kasino, Indro adalah contohnya.

Belum lagi penyanyi senior Iis Sugianto, Betharia Sonata, sampai Rinto Harahap dibawanya ke penjuru Indonesia. Hanya saja, kebanyakan pertunjukan musik atau show itu digelar di Pulau Jawa dan hotel di Indonesia.

"Dorce itu dulu belum ngetop sudah kita ajak keliling-keliling," ujarnya.

Rizal mengatakan, dirinya masih ingat kegiatan show itu memuncak pada tahun 1991 sampai 1996. Dia masih ingat honor penyanyi solo terkenal waktu itu berkisar Rp 200.000 sampai Rp 300. 000 per penampilan.

"Seperti Iis Sugianto itu dulu bayarannya Rp 250. 000, saat itu kurs dolar masih Rp 2.700 per 1 dolar AS. Muchsin plus Titik Sandora, pasangan terkenal saat itu tarifnya Rp 450.000," ujarnya mengenang masa-masa jayanya.

Hanya saja kegiatan itu pun meredup saat terkena krisis moneter. Rizal, yang menikahi Rachmawati tahun 1994 mulai meninggalkan dunia penyelanggaraan show. Namun bisnis EO-nya masih berjalan sampai saat ini, namun bukan lagi menyelenggarakan konser musik atau acara hiburan, melainkan berkutat pada penyelenggaraan kegiatan seminar, pendidikan, dan pelatihan atau sosialisasi peraturan pemerintah daerah.

Dalam bisnis EO yang berkaitan dengan pendidikan ini, Daeng mengatakan dirinya bekerja sama dengan pemerintah daerah ataupun organisasi masyarakat. Bahkan dia memiliki dua lembaga yang didirikannya, yakni Lembaga Studi Managemen Anggaran Publik dan Pusat Informasi SDM Indonesia.

Karena aktivitasnya di dunia pendidikan ini, Daeng pun diangkat sebagai Ketua Umum APEPSIDO (Asosiasi Pengembangan Penyelenggara Pengembangan SDM Indonesia). "Kegiatannya penyelenggaraan pembinaan teknik (bintek), diklat, seminar, workshop, yang mensosialisasikan program pemerintah terutama di daerah. Seperti anggota DPR, DPRD, pemprov," ujarnya.

Terkecoh

Kembali ke dunia sepak bola, Daeng mengatakan hobinya di sepak bola ternyata sama sekali tidak mendatangkan keuntungan bagi bisnis yang dilakukannya. Nama besarnya di klub Persitara Divisi Utama sama sekali tidak mampu mendongkrak usaha yang dijalaninya itu.

Justru Rizal mengaku terkecoh dengan pemikirannya selama ini, di mana dia menduga bakal menemukan banyak kemudahan dalam berbisnis saat menjadi orang nomor satu di klub Persitara.

Selama ini dia mengira, dengan menjabat sebagai ketua umum tentu jauh lebih mudah bertemu dengan pejabat dan pengusaha tanpa dipusingkan dengan birokrasi. Tapi setelah meraih kursi itu semuanya jauh panggang dari api.

"Dulu saya berpikirnya begitu. Namanya sudah duduk sebagai ketua umum Persitara pasti kenalannya dengan pembesar, sehingga (proyek) itu mudah. Tapi nggak demikian, semua itu sudah ada jalur-jalurnya," ujarnya.

Daeng malah mengalami sebaliknya. Katanya, pengurus klub sepak bola itu lebih banyak mengeluarkan uang pribadi dibanding mendapat keuntungan. Pengalamannya selama dua periode memimpin klub Persitara, dirinya sudah mengeluarkan uang pribadi sekitar Rp 900 juta, untuk membela klubnya itu.

"Uang segitu kecil buat orang bola. Bahkan teman lainnya ada yang sampai jual rumah atau kendaraannya untuk menutupi operasional," ujarnya.

Daeng sebenarnya ikhlas dengan pengorbanannya itu, tapi belakangan ini mau tak mau dia merasa sedih karena ulah beberapa orang yang melengserkannya dari posisi ketua umum dengan cara tidak benar.

"Kalau saja dia mau menyelesaikan dengan baik, saya serahkan dengan baik-baik. Kalau dia baik, silakan ambil dan tanggungjawab (lunasi) utang-utangnya. Ini bukan utang saya tapi institusi. Jangan mau ambil Persitaranya tapi mau lepas tangan persoalannya. Ya nggak bisa," ujar Daeng yang mengaku hanya butuh Rp 500 juta untuk menutupi utang gaji pemainnya selama empat bulan.

Meski begitu Daeng mengatakan tetap optimis dunia persepak bolaan di Indonesia akan membaik ketika pengurus PSSI bisa bersatu. Perpecahan atau dualisme ini berdampak pada klub yang kesulitan mencari sponsor karena ketidakpastian kepengurusan.

"Sebenarnya banyak perusahaan yang siap membantu menjadi sponsor, hanya saja karena masih terbelah begini mereka nggak mau ambil risiko. Khawatirnya nanti kalau sudah nyumbang ke yang satu, nanti disalahkan, 'kok nggak ke yang sana.' Jadi itulah persoalannya," ujar Daeng yang berencana turut serta menjadi caleg DPRD pada pemilu 2014 mendatang, menggunakan kendaraan Partai Demokrat itu. sm

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved