JELAJAH MUSEUM
Mendobrak Mitos Sejarah Rempah-Rempah
Pada ruang peralihan Museum Bank Indonesia, ditampilkan beberapa pelaut tersohor yang tercatat dalam sejarah tentang pelayarannya ke Nusantara.
Penulis: Feryanto Hadi |
Tamansari, Wartakotalive.com
Harga rempah-rempah yang begitu mahal mendorong Eropa mencari jalan baru ke Asia Tenggara. Pada akhir abad ke-15, pelaut dan pedagang portugis, dengan bantuan para pelaut dari Arab, berhasil menemukan jalan laut mengitari Afrika menuju Nusantara.
Jalur ke Timur yang misterius pun terbuka. Para pedagang Barat berdatangan dan membuka loji-loji di kota-kota pelabuhan Nusantara. Pada abad ke-17, Banten, misalnya, berkembang menjadi kota pelabuhan yang cosmopolitan.
Pada ruang peralihan Museum Bank Indonesia, ditampilkan beberapa pelaut tersohor yang tercatat dalam sejarah tentang pelayarannya ke Nusantara.
Yang pertama adalah pelaut kondang Marcopolo (1254-1324). Pelaut asal Italia ini pada 1290 diutus Kublai Khan untuk mengantar Putri Kokachindari Mongol ke Persia melewati Nusantara. Kisah perjalanannya menggairahkan rangkaian ekspedisi ke Timur, dan dari hasil penjelajahan Marcopolo ini, Eropa untuk pertama kalinya mendengar tentang sistem uang kertas yang sudah lama berlaku di china.
Pelaut berikutnya adalah Laksamana Cheng Ho (1371-1436) dari China. Ia pernah memimpin tujuh ekspedisi ke laut-laut selatan dengan ratusan Jung raksasa dan secara keseluruhan terdiri dari ratusan ribu awak. Ekspedisi-ekspedisi ini berhasil membuka hubungan dagang antara china dengan 35 negara, termasuk kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Kemudian Juan Sebastian del Cano (1476-1526). Pelaut asal Spanyol ini membukan jalan laut baru dari Maluku, kemudian singgah di Timor, kemudian bergerak ke barat daya menyeberangi Samudera Hindia hingga ujung selatan Afrika,lalu melintasi lautan Atlantik dan tiba di Liberia Selatan (Spanyol). Pada masa ini, untuk pertama kalinya, rempah-rempah asal Maluku diangkut langsung tanpa pedagang perantara dari tempat asalnya ke Eropa.
Selanjutnya adalah Afonso D’Alburqueque (1453-1515). Ia awalnya menduduki Malaka pada tahun 1511. Setelah Malaka, sasaran berikutnya adalah Maluku. Dengan menguasai Malaka, pelabuhan terpenting saat itu, Portugis menguasai perdagangan rute India-Nusantara-china.
Sosok terakhir yang ditampilkan di ruang peralihan Museum Bank Indonesia adalah Cornelis de Houtman (1565-1599). Pria asal Belanda ini adalah pemimpin armada pertama Belanda ke Hindia Timur. Ekspedisinya penuh dengan kekerasan dan pemberontakan (145 dari 249 awaknya tewas), memakan waktu yang panjang dan tidak banyak mendatangkan keuntungan financial. Namun, ia membuka mata perdagangan Belanda akan menjanjikannya mendatangkan rempah-rempah dari Nusantara langsung dari sumbernya.
Semenjak kepulangan de Houtman, beberapa maskapai dagang Belanda berdiri. Persaingan ini membuat pasokan rempah melonjak tapi menurunkan harganya. Pada 1602, semua maskapai disatukan ke dalam Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang dipimpin oleh Heren XVII.
Pada 1603, armada pertama VOC berlayar dengan dua tujuan, yakni membuka perdagangan di Nusantara dan menghancurkan dominasi Portugis (tujuan yang kedua ini gagal). VOC lalu memutuskan untuk membangun kekuatan di Asia di bawah seorang Gubernur Jenderal. Pada 1610, VOC membangun basis di timur Banten, yang kemudian dinamai Batavia.