Buku "Batavia" Hadirkan Sisi lain Kehidupan Masyarakat Tempo Dulu
Cerita-cerita dalam buku ini, hanya sebuah cerita ringan yang mengisahkan segala macam perasaan dan pikiran ketika orang dihadapkan dengan situasi dan suasana baru dan dianggap aneh.
Penulis: Feryanto Hadi |
Tamansari, Wartakotalive.com
Malam hari, toko-toko orang Tionghua tampak seperti gedung pesta yang meriah karena disinari oleh lampion-lampion dari kertas warna-warni. Di dalam toko, bermacam-macam barang dagangan tergantung, menumpuk dan bertumpang tindih, berantakan, namun teratur.
Gambaran di atas merupakan salah satu kutipan yang ada dalam buku berjudul “Batavia’ karya Frieda Amran, diambil dari salah satu bab yang berjudul ‘Di Kampung Tjina’. Sebuah kondisi yang terjadi pada periode tahun 1700an, dimana saat itu Batavia masih berada dalam pendudukan Belanda.
Selama ini mungkin tidak banyak orang yang tahu mengenai sisi lain kehidupan masyarakat Batavia pada masa itu; pekerjaan apa yang umumnya dilakukan, bagaimana gaya hidupnya, atau bagaimana kondisi prostitusi di jaman itu.
Cerita-cerita dalam buku ini, hanya sebuah cerita ringan yang mengisahkan segala macam perasaan dan pikiran ketika orang dihadapkan dengan situasi dan suasana baru dan dianggap aneh. Namun di balik cerita-cerita ringan itu, terhadap gambaran menarik mengenai orang Indonesia sehari-hari, khususnya yang hidup di masa lampau.
“Saya kira, cerita kehidupan sosial orang Belanda, orang Indo-Belanda dan orang Indonesia di Batavia merupakan bagian sejarah yang tak kalah pentingnya dengan isu penjajahan dan pemerintahan Hindia-Belanda,” jelas Frieda pada acara peluncuran buku ini, di Museum Mandiri, Jalan Lapangan Stasiun No. 1, Kota Tua, Jakarta Barat, Rabu (31/10).
Siapa yang menyangka bahwa pada masa itu, sekitar abd 17 sampai 18, masyarakat Batavia sudah memiliki gaya hidup yang masih berlangsung hingga sekarang. Pada sekitar tahun 1828, kebiasaan bergdang malam mingguan di Batavia sudah dilakukan. Hal tersebut seperti terlihat dari salah satu kutipan pda halaman 88 yang ada dalam buku ini.
Saat menjelang akhir pekan, pada malam malam minggu, tetangga dan teman-teman mengobrol dan bermain kartu bersama . Rumah yang didatangi bergantian, atau mereka rendes-vouz di restoran, losmen atau di societeit. Di rumah, suasana lebih santai. Setelah the dan kopi serta cemilan pengiringnya habis, tuan rumah mengeluarkan botol anggurnya.
Tiga minggu sekali ada pertunjukan musik atau sandiwara di panggung Schouburg atau gedung Kesenian. Biasanya, sandiwara di sana dipentaskan dalam bahasa Belanda, namun cerita-cerita yang dilakoni tidak hanya cerita Belanda saja, tetapi juga cerita-cerita di negeri-negeri lain di Eropa.
Masih banyak hal-hal menarik pada buku yang diterbitkan oleh penerbit Kompas ini. Diantaranya, bagaimana kehidupan masyarakat Batavia di Passer Baroe (Pasar Baru), suasana pasar, serta kita juga bisa mengenal Pusat Penjinakan wanita Binal yang ada di masa itu.