Isu Pocong Gentayangan Resahkan Warga
Sudah hampir dua minggu terakhir ini kawasan Donorejo, Kel Talang Banjar, Jambi Timur, dan Jalan Gunung Kidul, dekat SMK Attaufiq dan asrama polisi Talang Banjar bagai tak berpenghuni. Namun pada Rabu (31/10) pukul 22.00, kawasan ini mendadak ramai. Ribuan warga memadati kawasan TPU Darul Akhirat, Talang Banjar.
Talang Banjar, Wartakotalive.com
Sudah hampir dua minggu terakhir ini kawasan Donorejo, Kel Talang Banjar, Jambi Timur, dan Jalan Gunung Kidul, dekat SMK Attaufiq dan asrama polisi Talang Banjar bagai tak berpenghuni. Namun pada Rabu (31/10) pukul 22.00, kawasan ini mendadak ramai. Ribuan warga memadati kawasan TPU Darul Akhirat, Talang Banjar.
Ternyata sumber kehebohan itu adalah munculnya isu penampakan sosok mirip pocong yang bergentayangan. Bahkan aparat kepolisian yang dipimpin Kapolsek Jambi Timur, AKP Fery Ardian, datang untuk memastikan kerumunan massa tidak anarkis. Camat Jambi Timur Ridwan Saleh, dan Lurah Talang Banjar pun mendatangi lokasi..
Warga yang memadati lokasi ini, menurut Tribunnews, lantaran penasaran dengan cerita yang marak beredar dari mulut ke mulut. Tak hanya itu, perbincangan mengenai penampakan ini juga marak di grup BlackBerry Messengger (BBM) dan Twitter.
Terkait dengan isu-isu yang meresahkan masyarakat semacam ini, Ustaz Heriyanto, dari Desa Lubuk Kayu Aro, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi mengatakan fenomena seperti ini memang sering didengar, namun menurutnya, dalam Islam kejadian seperti itu tidak ada. "Boleh Ayat Kursi, Al-Fatiha, Al-Falaq dan Annas atau Surah Yasin. Tapi yang lebih bagusnya membaca Ayat Kursi karena menyimpan makna yang sangat mendalam," katanya.
Isu yang muncul, arwah perempuan bernama Leginah (30), yang meninggal dua minggu lalu, mendatangi warga di Donorejo dan sekitar Attaufiq. "Sedikitnya 10 orang yang mengaku didatangi almarhum. Arwah itu meminta agar tali pocongnya dilepas," kata Ilham, pemuda setempat yang ditemui Tribun Jambi pada Rabu malam.
Kemarin malam, keluarga Leginah datang ke Rumah Ketua Pemuda di kawasan TPU, dan terlibat perundingan dengan warga, polisi dan tokoh masyarakat. Dalam pertemuan itu, warga menuntut makam Leginah dibongkar kembali.
Herman, lelaki paruh baya, yang bertugas menggali kubur almarhum kepada Tribun mengakui, saat prosesi pemakaman, tali pocong pada kain kafan tidak dilepas. "Waktu itu saya sadar tali pocong tidak dibuka, tapi pihak keluarga tak membolehkan," kata Herman.
Dia pun membeberkan sejumlah kejanggalan lain. Katanya, jenazah ketika dikeluarkan dari mobil ambulans langsung dimasukkan ke dalam kubur. "Tanpa diazani. Pokoknya tidak mengikuti tata cara kita kebanyakan," katanya.
Tambahnya, pihak keluarga yang jumlahnya puluhan saat prosesi itu, berdoa dgn cara berdiri dan menghadap matahari.
Marzuki, Ketua RT 28 yang mengikuti pertemuan, mengakui adanya keresahan masyarakat. "Memang banyak yang resah, tapi belum ada satupun yang mengaku pada saya pernah melihat secara langsung. Penampakan itu hanya tersebar di HP," katanya.
Sebagai wakil keluarga, Sutrisno, suami almarhumah Leginah, menolak makam dibongkar. “Kami keberatan dan tidak mengizinkan pembongkaran makam. Kami ini sudah tertimpa musibah, kenapa harus ditambah lagi,” ujar Sutrisno, Kamis (1/11). BK / av