Sabtu, 11 April 2026

JELAJAH MUSEUM

Meriam Si Jagur, Dari Kisah Mistis Hingga Lambang Keperkasaan

Salah satu koleksi masterpiece Museum Sejarah Jakarta adalah sebuah meriam unik nan kokoh. Letaknya di bagian belakang museum atau dekat dengan kantor pengelola museum. Meriam itu dinamakan si Jagur.

Tamansari, Wartakotalive.com

Salah satu koleksi masterpiece Museum Sejarah Jakarta adalah sebuah meriam unik nan kokoh. Letaknya di bagian belakang museum atau dekat dengan kantor pengelola museum. Meriam itu dinamakan si Jagur.

Meriam ini sudah kondang ke mana-mana. Bentuknya unik ditambah sejarah panjang yang melingkupinya. Meriam ini juga menyimpan banyak kisah mistis. Bahkan, pada jaman dulu, dikisahkan banyak masyarakat yang datang ke meriam ini hanya untuk "ngalap berkah". Nah, untuk menghindarkan perlakuan berlebihan dari masyarakat, Si Jagur yang semula ditempatkan di depan, lalu dipindahkan ke belakang Museum Sejarah Jakarta.

Meriam ini punya catatan cukup panjang, hingga akhirnya bisa sampai di Museum Sejarah Jakarta. Meriam Si Jagur dibuat oleh seorang berdarah Portugis, kemudian dituang oleh Manoel Tavares Bocarro di Macau, China. Di Macau, meriam ini oleh Portugis ditempatkan di benteng St. Jago de Barra yang lokasinya dekat pantai. Karena hal inilah kemudian meriam ini mendapat julukan Si Jagur.

Pada bagian punggung meriam ini, terukir tulisan berbahasa latin "Ex me ipsa renata sum." Artinya, "dari aku sendiri aku dilahirkan kembali." Pada 1962, tulisan 7.000 ditambah di depan lubang penyulut atas perintah Direktur Jenderal Joan van Hoorn yang saat itu ingin mengetahui berat meriam Si Jagur.

Meriam ini begitu besar dan berat. Wajar saja, Panjangnya mencapai 3,81 meter, berat 7.000 lb atau 3,5 ton dan diamater dalam atau kalibernya 24 sentimeter. Cocok untuk peluru batu seberat 36 pon atau peluru besi 100 pon.

Dikisahkan, kala portugis menguasai Malaka awal abad 16, Si Jagur dipindahkan dari Macau ke Malaka. Kemudian, meriam dibawa ke Batavia oleh Belanda usai merebut Malaka pada 1641. Pada awalnya, oleh VOC (Belanda), meriam itu ditempatkan di Benteng Batavia untuk menjaga pelabuhan. Tapi, lalu dipindahkan ke magasin artileri dekat jalan Tongkol. Seusai magasin dibongkar pada 1810, Si Jagur ditinggalkan.

Selain besar dan berat, bentuk Meriam Si Jagur juga unik. Sebab, di bagian belakangnya berbentuk tangan dengan ibu jari dijepit antara jari telunjuk dan jari tengah. Kepalan tangan itu diperkirakan kepalan tangan wanita. Hal itu bisa dilihat dari gelang mutiara pada pergelangan tangan yang menyembul dari lengan baju berbordir.
Bentuk kepalan tangan iitu dalam bahasa Portugis disebut "mano in figa" yang diartikan sebagai simbol menangkal kejahatan atau juga untuk mengejek orang Belanda, sebagai musuh besar orang Portugis. Bentuk ini pula dilambangkan dengan kejantanan atau kesuburan.

Sayang, keberadaan meriam ini di Museum Sejarah Jakarta tak cukup mendapatkan perhatian khusus. Terbukti, ada beberapa coretan besar dari pengunjung yang tidak bertanggung jawab, pada meriam ini. Selain itu, benda yang menyimpan segudang kenangan sejarah ini juga tidak dilindungi secara serius atau tidak dipagari. Alhasil, pengunjung bisa dengan leluasa naik ke bagian meriam si Jagur untuk berfoto.

FERYANTO HADI/REN

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved