Rabu, 3 Juni 2026

JELAJAH MUSEUM

Perahu Asmat, Salah Satu Mahakarya Suku Asmat

Ada satu benda yang menarik ketika kita berkunjung ke ruang etnografi Museum Nasional, yakni adanya sebuah perahu yang bentuknya unik dan kental dengan nuansa budaya dengan adanya seni ukir yang terdapat di beberapa bagian perahu.

Tayang:

Gambir, Wartakotalive.com

Ada satu benda yang menarik ketika kita berkunjung ke ruang etnografi Museum Nasional, yakni adanya sebuah perahu yang bentuknya unik dan kental dengan nuansa budaya dengan adanya seni ukir yang terdapat di beberapa bagian perahu.

Namanya Perahu Asmat. Perahu yang terlihat sederhana namun kental dengan sentuhan kreatif ini digunakan oleh masyarakat Asmat yang berada di pulau cenderawasih, sebagai alat transportasi. Seperti kita tahu, sebagian besar penduduk Asmat memilih bertempat tinggal di pesisir pantai atau pinggir sungai.

Hal ini salah satunya dilatari oleh kesulitan transportasi melalui jalan darat. Alhasil, transportasi laut atau sungai menjadi pilihan utama. Perahu-perahu panjang dan perahu bermotor sering menjadi pilihan  untuk perjalanan antar kampung dan daerah.

Dikisahkan, sebelum adanya perahu bermotor, perahu tradisional merupakan transportasi yang penting bagi masyarakat suku Asmat. Bentuk perahu mereka panjang dan langsing.  Pada bagian kepala perahu dibuatkan patung dan pada sisi-sisinya dihiasi dengan ukiran khas Asmat.

Perahu suku Asmat ini umumnya terbuat dari kayu dan dibuat di Yeu atau rumah khusus untuk laki-laki. Hebatnya, hampir seluruh laki-laki Asmat bisa membuat kayu, kecuali perahu khusus yang digunakan untuk perang. Pembuatan perahu sendiri, biasanya dilakukan secara bergotong-royong.

Panjang perahu Asmat antara 2,5 meter sampai 5 meter. Cara mengayuhnya pun berbeda dengan perahu lainnya. cara mengayuh perahu bermoncong lancip ini adalah dengan posisi badan yang berdiri. Perahu yang kelihatan begitu sempit ini, bisa dinaiki 4 sampai 8 orang dan seorang yang duduk di muka.

Perahu umumnya dibuat dengan motif belalang sembah atau manusia yang melambangkan nenek moyang. Pada sisi perahu banyak menggunakan motif spiral yang melambangkan binatang kus-kus atau motif zig-zag maupun motif huruf S.

Di samping perahu yang digunakan sebagai alat transportasi, pada kehidupan masyarakat Asmat, ada juga perahu yang disimpan di Yeu. Perahu yang disimpan ini biasanya dianggap sebagai perahunya nenek moyang. Motif-motifnya melambangkan kura-kura, ikan atau ular air.

Perahu simpanan ini biasanya hanya digunakan untuk memperingati nenek moyang saja. Perahu ini melambangkan alat transportasi mereka menuju ke dunia arwah. Penasaran dengan kekayaan budaya Indonesia yang lain? Ikuti terus penjelajahan Wartakotalive.

KOMPAS/REN

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved