JELAJAH MUSEUM
Arca Bhairawa, Arca Tertinggi Di Museum Nasional
Salah satu masterpiece koleksi Museum Nasional adalah arca Bhairawa. Patung ini terletak di taman sejarah, dan merupakan salah satu patung yang mencolok koleksi museum dengan tinggi 414 cm. Pengamatan Wartakotalive, banyak pengunjung yang mengabadikan arca ini dengan memotretnya. Khususnya para wisatawan yang berasal dari manca negara, mereka tidak melewatkan kesempatan untuk berpose dengan arca ini.
Gambir, Wartakotalive.com
Salah satu masterpiece koleksi Museum Nasional adalah arca Bhairawa. Patung ini terletak di taman sejarah, dan merupakan salah satu patung yang mencolok koleksi museum dengan tinggi 414 cm. Pengamatan Wartakotalive, banyak pengunjung yang mengabadikan arca ini dengan memotretnya. Khususnya para wisatawan yang berasal dari manca negara, mereka tidak melewatkan kesempatan untuk berpose dengan arca ini.
Dari informasi yang dihimpun, Arca Bhairawa koleksi Museum Nasional ini ditemukan di kawasan persawahan di tepi sungai di Padang Roco, Kabupaten Sawahlunto, Sumatera Barat. Tinggi arca sekitar tiga meter, mewakili aliran Tantrayana. Diperkirakan, arca ini berasal dari abad 14 masehi.
Karena bentuknya yang paling besar dan tinggi, Arca Bhairawa nampak gagah di antara arca-arca lain yang tersebar di sekelilingnya. Namun, jika diperhatikan, Arca Bhairawa ini tidak dalam kondisi utuh lagi, terutama pada bagian sandarannya. Arca ini tidak banyak dijumpai di Jawa, karena berasal dari Sumatera.
Sejarah penemuan arca ini cukup unik. Dikisahkan, pada awalnya hanya sebagian dari arca ini yang yang muncul dari dalam tanah. Masyarakat setempat tidak menyadari bahwa benda itu merupakan bagian dari arca. Bahkan mereka sering memanfaatkannya sebagai batu asah dan untuk menumbuk padi. Hal ini dapat dilihat pada kaki sebelah kirinya yang halus dan sisi dasar sebelah kiri arca yang berlubang.
Arca Bhairawa ini memiliki dua tangan. Tangan kiri memegang mangkuk berisi darah manusia dan tangan kanan membawa pisau belati. Jika tangannya ada empat, maka biasanya dua tangan lainnya memegang tasbih dan gendang kecil yang bisa dikaitkan di pinggang, untuk menari di lapangan mayat damaru (ksetra).
Penggambaran Bhairawa membawa pisau konon untuk upacara ritual Matsya atau Mamsa. Mangkuk itu untuk menampung darah dalam upacara minum darah. Sementara tangan yang satu lagi membawa tasbih. Wahana atau kendaraan Siwa dalam perwujudan sebagai Siwa Bhairawa adalah serigala karena upacara dilakukan di lapangan mayat dan serigala merupakan hewan pemakan mayat.
Bhairawa sendiri merupakan Dewa Siwa dalam salah satu aspek perwujudannya. Memerintah di Melayu pada tahun 1347 sampai dengan tahun 1375. Dalam sejarahnya, Bhairawa digambarkan bersifat ganas, memiliki taring, dan sangat besar seperti raksasa. Bhairawa berkategori ugra (ganas).
Perjalanan Jelajah Museum belum berhenti sampai di sini. Mau tau benda-benda menarik lainnya di Museum Nasional? Terus simak penelusuran kami.
FERYANTO HADI/REN