Breaking News:

Toko Kelontong "Tjang Thjang Sen" di Glodok Itu Masih Bertahan...

SIAPA yang menyangka bahwa toko klontong bergaya supermarket di Jakarta sudah ada sejak tahun 1906. Toko itu berlabel Tjang Thjang Sen. Toko ini berdiri kokoh di kawasan Petak Sembilan Jalan Kemenangan III, Kelurahan Glodok, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.

Editor:

SIAPA yang menyangka bahwa toko klontong bergaya supermarket di Jakarta sudah ada sejak tahun 1906. Toko itu berlabel Tjang Thjang Sen. Toko ini berdiri kokoh di kawasan Petak Sembilan Jalan Kemenangan III, Kelurahan Glodok, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.

Tjang Sung Thao, pemilik toko Tjang Thjang Sen, saat ditemui Warta Kota mengatakan, dirinya adalah generasi keempat yang melanjutkan usaha toko tersebut. "Saya mengelola toko ini baru 20 tahun, berbeda dengan karyawan saya, Berly, yang sudah 40 tahun ikut mengelola toko bersama ayah saya," kata Tsang Sung Thao kepada Warta Kota, Jakarta. Kamis (13/9).

Pria yang memiliki nama Indonesia Bobby ini menjelaskan, arti dari label Tjang Thjang Sen adalah Jaya Abadi. "Saya nggak tahu persis alasan kakek buyut saya menggunakan nama tersebut," kata bapak tiga anak itu.

Pemilik toko pertama bernama Tjang Tien Ling, kemudian dilanjutkan oleh kakeknya, Tjan Sieh Yun. "Pada tahun 1980-an, toko Jaya Abadi ini dikelola oleh ayah saya yang bernama Tjang Sen Fie. Kemudian, sejak tahun 1993 sampai sekarang saya yang melanjutkan untuk mengelola toko ini," katanya.

Tjang Sen Fie atau Surya, lanjut Bobby, kini sudah berusia 81 tahun dan saat ini tinggal Bobby di kawasan Ancol, Jakarta Utara.

"Sampai saat ini ayah saya masih suka datang ke toko untuk melihat kemajuan toko, ya .. walaupun nggak sering banget datangnya. Hanya sesekali saja sih, kalau dia ingin datang ke toko saja," ujarnya.

Sejak toko Jaya Abadi berdiri, toko ini hanya mengalami dua kali renovasi saja. Pada 1996, lanjut Bobby, toko ini mendapat kiriman banjir bandang dari Bogor, Jawa Barat, yang menyebabkan banyak kerugian dagangan hanyut terbawa air.

Belajar dari peristiwa itu, pada tahun 2004 Bobby merenovasi total toko dengan meninggikan lantai toko sekitar 1,5 meter, dan mengganti pondasi bangunan dari kayu dengan sebuah logam baja serta memasang lantai yang hanya berbahan semen.

Menurut Bobby, sejak toko itu berdiri, tanah di toko memiliki ketinggian yang sama dengan tanah yang ada di luar toko. "Saya nggak tahu persisnya kapan, lalu jalan di luar toko itu ditinggikan oleh pemerintah hingga ketinggian sekitar 80 sentimeterm. Akibat peninggian tanah itu, toko kami berada lebih rendah dari jalanan," jelasnya.

Bahasan Mandarin

Menurut pengamatan Warta Kota, sekitar 80 persen produk yang mereka tawarkan berbahasa Mandarin dan 20 persen menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris. Walaupun mayoritas produknya berbahasa Mandarin, namun di produk tersebut mencantumkan label Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM) dan ditempelkan sebuah label kertas menggunakan bahasa Indonesia, dengan maksud memudahkan pembeli untuk memahaminya.

Produk yang ditawarkan oleh toko berukuran 8 x 6 meter itu, berupa bumbu-bumbu masak atau keperluan masak yang bernuansa makanan negeri Panda. Mayoritas, produk yang dijualnya itu dibeli oleh pengusaha restoran Chinese Food di Jakarta. "Mereka adalah pelangganan tetap kami dan mereka membeli untuk kebutuhan dapur di restoran miliknya," ucapnya.

Dalam sehari, Bobby mengaku mendapatkan omzet sekitar Rp 7 juta. Omzet itu akan meningkat 30 sampai 40 persen ketika menjelang Hari Raya Imlek.

Dengan banyaknya supermarket dan minimarket yang bertebaran di Jakarta, dirinya tidak pernah takut dengan persaingan bisnis yang cukup berat.

Menurut Bobby, bisnis harus ditumbuhkan dari nilai kepercayaan dan kejujuran pedagang ke pembeli. Jika pembeli sudah memiliki kepercayaan yang kuat kepada toko, lanjut dia, tidak perlu khawatir lantaran pembeli tersebut akan tetap berbelanja di toko.

Bobby menuturkan, sejak toko Jaya Abadi berdiri hingga tahun 2000, mereka menghitung transaksi dengan menggunakan alat hitung sempoa.

"Dulu kan belum ada kalkulator, jadi sejak generasi pertama sampai saya saat tahun 2000 masih menggunakan sempoa," katanya.

Dengan teknologi yang semakin canggih, lalu pihaknya beralih dari penggunaan sempoa hingga menggunakan sebuah perangkat komputer untuk menghitung jumlah transaksi.

"Walaupun toko ini usianya tua, tentu kami ikut perkembangan zaman dong. Kan sekarang sudah modern, jadi biar lebih praktis, pakai komputer saja," tambahnya.

Dijelaskan Bobby, cara transaksi di toko ini seperti berbelanja di supermarket atau minimarket saja. Para pembeli hanya perlu mengambil kebutuhannya di toko, lalu membayarnya di kasir sesuai dengan banderol harga yang tertera di rak dagangan.

Pembeli dari Berbagai Daerah

Berly (66) salah seorang pegawai toko Jaya Abadi, mengatakan, pada tahun 1970-an toko ini kebanjiran pembeli yang datang dari luar daerah, misalnya Bandung, Tegal dan Purwekerto.

Seiring berjalannya waktu, kata Berly, pelanggan yang datang dari luar kota tidak berdatangan lagi. Dia mengatakan, perkembangan yang semakin modern dan pesat, membuat pengusaha di daerah membuat usaha seperti toko Jaya Abadi di berbagai daerah. "Ya .. kalau sudah merata usahanya di tempat mereka, buat apa mereka harus datang ke sini lagi?," ucapnya.

"Saya senang bekerja di toko ini, karena sudah seperti saudara sendiri, orang-orangnya sangat baik dan ramah" kata bapak dua anak itu. Berly yang sudah bekerja di toko itu sejak usia 28 tahun atau sebelum dia menikah, menambahkan pendapatan sebagai karyawan di toko itu sangat berkecukupan. "Ya cukup buat makan sehari-hari dengan anak dan istri, tapi kalau uangnya habis di tengah jalan paling ngutang dulu di toko," kata pria tua yang tinggal di Jalan Perumahaan Daan Mogot Baru, Cengkareng.

Sementara itu, Lili (68) pembeli di toko Jaya Abadi mengatakan, kedatangan dirinya ke toko tersebut ingin membeli keperluan masak di rumah. "Saya ke sini untuk beli kecap, ikan, tepung ubi dan lain-lain," kata Lili warga Sunter, Jakarta Utara.

Dikatakan Lili, dirinya memiliki ketertarikan tersendiri untuk berbelanja di toko Jaya Abadi. "Saya suka belanja di toko ini, karena barangnya lengkap, harganya terjangkau, ditambah saya sudah puluhan tahun belanja di sini," kata Lili. (m15)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved