Kanal

Mantan Sekda Depok Tersangka Korupsi Jalan Nangka Janji Hadir di Mapolresta Depok

Kuasa hukum Sekda Depok Harry Prihanto, Ihsan Rangkuti. - Warta Kota/Budi Sam Law Malau

Namun kata Ihsan, Harry mengaku tak tahu apa alasan penyidik memposisikan proyek pelebaran Jalan Nangka ini sehingga kepolisian menilai adanya dugaan korupsi yang dilakukan Harry sebagai Sekda Depok saat itu.

"Jadi posisi kasus ini oleh kepolisian seperti apa sesungguhnya, dan kenapa bisa mengarah ke Pak Harry, kita tidak tahu," katanya.

Yang jelas kata Ihsan, Harry menilai ada keanehan dan kejanggalan dengan penetapan status tersangkanya.

"Keanehan yang dirasakan beliau adalah di proyek ini kan belum ada pelaksananya. Seharusnya dalam proyek tersebut, harus ada pelaksananya dan pelaksana mesti diperiksa polisi. Disini anehnya menurut beliau, sebab belum ada pelaksananya yang sudah diperiksa, tapi sudah ada tersangkanya.Jadi seakan langsung loncat ke beliau," kata Ihsan.

Mengenai keterangan polisi yang menyebutkan bahwa ada dobel anggaran untuk pembebasan lahan dalam pelebaran Jalan Nangka dan dinilai sebagai modus utama korupsi, Ihsan berpendapat hal itu adalah kewenangan penyidik.

"Tapi Pak Harry memastikan tidak ada dobel anggaran atau tumpang tindih anggaran, yang menurut penyidik dari swasta dan Pemkot Depok," kata Ihsan.

Seperti.diketahui Kepolisian Resort Kota (Polresta) Depok menetapkan mantan Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail dan mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Depok, Harry Prihanto, sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pelebaran Jalan Nangka, Tapos, Depok, sejak 20 Agustus 2018 lalu.

Ditaksir ada kerugian negara mencapai Rp 10,7 Miliar dalam kasus ini.

Meski sudah ditetapkan tersangka, namun polisi belum menahan Nur Mahmudi dan Harry Prihanto.

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Max Agung Pribadi

5 ABG Digerebek Hendak Gelar Pesta Seks di Makassar, 3 Gadis Masih di Bawah Umur

Berita Populer