Kanal

Warga Pirus Tolak Pembangunan Taman Kelurahan Pondok Jaya Kota Depok

LOKASI di lingkungan Sektor Pirus Permata Depok yang rencananya akan dibangun taman Kelurahan Pondok Jaya oleh Pemkot Depok, Minggu (9/9/2018). - Istimewa

RENCANA Pemerintah Kota Depok membangun taman Kelurahan Pondok Jaya di lingkungan Sektor Pirus Permata Depok mendapat penolakan warga.

Sebab, pembangunan taman tersebut dikhawatirkan akan menghilangkan hak-hak warga atas taman serta menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan.

Ketua RT 010/RW 007 Suyatno menegaskan, warga telah sepakat bulat menolak rencana tersebut. Pernyataan penolakan tersebut ditandatangani lebih dari 130 kepala keluarga.

“Tidak ada sosialisasi yang komprehensif untuk warga. Memang pihak kelurahan pernah mengundang sekitar enam warga yang sebenarnya tidak mewakili kami, saat sosialisasi. Tahu-tahu kami disodori gambar atau site plan taman yang sudah jadi,” kata Yatno.

“Sesuai dengan peraturan yang ada, setiap pembangunan fasilitas umum harus mendapat persetujuan dari warga, dan kami menolaknya,” imbuhnya.

Yatno berharap pemerintah Kota Depok dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) tidak memaksakan kehendak melanjutkan rencana pembuatan taman yang akan menelan anggaran sebesar Rp 1,5 miliar itu.

Menurutnya, warga pernah bertemu langsung dengan Kepala Dinas Ety Suharyati untuk membicarakan hal tersebut. Saat itu Ety mengatakan pembangunan taman tidak akan dilanjutkan jika tidak mendapat persetujuan dari warga sekitar.

LOKASI di lingkungan Sektor Pirus Permata Depok yang rencananya akan dibangun taman Kelurahan Pondok Jaya oleh Pemkot Depok, Minggu (9/9/2018). (Istimewa)

Surat Persetujuan, Tidak Benar

Sementara itu wakil ketua RT Datche Samant menambahkan, saat ini beredar surat dari DLHK kepada RT dan RW Kelurahan Pondok Jaya yang berisi tentang persetujuan pembangunan taman. Menurut Datche, hal tersebut tidak bisa dibenarkan karena mereka tidak akan terkena dampak negatif secara langsung.

“Mestinya kami yang diajak bicara, bukan RT lain. Lapangan Pirus adalah pusat kegiatan warga, mulai dari olahraga, dan ajang kumpul warga. Bisa dibayangkan jika setiap peringatan 17 Agustus atau penyembelihan hewan kurban kami harus minta izin kekelurahan, jika taman itu berstatus taman kelurahan,” kata Datche.

Sementara itu Aji, wargaPirus XII menyayangkan adanya semacam ancaman yang dilontarkan pihak DLHK. Pasalnya proyek itu dikaitkan dengan rencana proyek normalisasi saluran air. Padahal dua proyek tersebut sangat berbeda.

“Aneh, kami sudah berulang kali mengajukan proposal untuk normalisasi gorong-gorong namun tidak pernah diperhatikan. Tiba-tiba muncul proyek pembangunan taman. Mestinya Pemkot lebih fokus pada normalisasi saluran air karena setiap musim hujan air tidak mengalir lancar dan menggenangi beberapa rumah warga,” jelas Aji.

“Di Pertama Depok ini banyak taman, setiap sektor punya fasilitas umum berupa taman. Mengapa harus lapangan sektor Pirus yang dipilih,” ujarnya.

Saat ini taman Pirus dikelola oleh warga dengan baik. Taman yang bersebelahan dengan danau Pirus itu terdapat lapangan futsal, basket, dan badminton, serta banyak ditumbuhi tanaman keras.

Secara terpisah Ety Suryahati mengakui jika pihaknya saat ini sedang berkoordinasi dengan RT, RW dan pihak kelurahan di Kelurahan Pondok Jaya untuk meminta persetujuan. Menurutnya program pembangunan taman kelurahan tersebut merupakan program unggulan Pemkot Kota Depok. (DjanurBuana) 

Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota

Aldi Novel Adilang Hanyut hingga ke Jepang: Saya Hanya Berdoa, dan Hiu Itu Pergi

Berita Populer