Kanal

Etika Mengelola Pariwisata

Sejumlah wisatawan saat berkuliner di Kafe Sawah, Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu (14/5/2017) - Kompas.com/Andi Hartik

PALMERAH, WARTA KOTA-Perkembangan teknologi rupanya membawa dampak positif bagi industri pariwisata Tanah Air. Bahkan, lokasi-lokasi wisata baru yang selama ini tak dikenal, kini terpublikasi secara luas melalui media sosial.

Tak kurang dari 255 juta perjalanan wisatawan nusantara dan 10 juta wisatawan asing membanjiri objek-objek wisata selama 2015. Diprediksi perjalanan wisata dunia pada tahun 2020 akan mencapai 1,6 miliar orang.

Peluang ini tampaknya ditangkap oleh pemerintah Indonesia. Pada 2016 lalu, Kementerian Pariwisata mulai mengampanyekan destinasi wisata prioritas dengan sebutan "Sepuluh Bali Baru", yaitu Danau Toba, Tanjung Kelayang, Kepulauan Seribu, Tanjung Lesung di Banten, Borobudur di Jawa Tengah, Bromo Tengger di Jawa Timur, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, serta Pulau Morotai di Maluku Utara.

Pengembangan "Sepuluh Bali Baru" diharapkan mampu mengombinasikan pesona alam dengan karakteristik serta keberagaman budaya, sehingga akan menjadi keunggulan kompetitif masing-masing daerah.

Dalam perspektif etika bisnis, pembangunan industri pariwisata sejalan dengan konsep utilitarianisma. Masyarakat sekitar objek wisata dapat meningkatkan utilitas aset yang dimiliki, seperti rumah atau kendaraan, dengan menyewakannya kepada wisatawan.

Selain itu, keberadaan pariwisata dapat dipandang sebagai upaya pemerintah dalam menjamin hak positif masyarakat sekitar untuk mendapatkan pekerjaan dan meningkatkan penghasilannya.

Hal ini terbukti dengan data Kementerian Pariwisata yang menunjukkan bahwa tahun 2015 sektor pariwisata mampu menyumbang 10 persen PDB nasional atau 9,3 persen devisa negara, dan membuka 9,8 juta lapangan pekerjaan.

Angka ini diproyeksikan naik dengan kontribusi 15 persen terhadap PDB, meraup 280 triliun devisa negara, dan menyerap 13 juta tenaga kerja pada 2019.

Namun di sisi lain, pembangunan industri pariwisata tidak dapat dilepaskan dari isu lingkungan. Perubahan ekosistem dan kerusakan lingkungan menjadi tema yang mengemuka. Industri pariwisata sering dianggap mengeksploitasi lingkungan fisik alami maupun buatan (cagar budaya).

Kebutuhan wisatawan akan hiburan berupa ketenangan dan keindahan yang disajikan oleh alam ataupun cagar budaya seringkali tidak mengindahkan sistem ekologis yang ada.

Halaman
12
Editor: Tri Broto

Beredar Isi Percakapan Asusila Kepsek SMAN 7 Mataram yang Menyeret Baiq Nuril

Berita Populer