Kanal

Gagal Perencanaan, Kawasan Tanah Abang Semrawut

Sebagian besar PKL yang berjualan di sisi jalan ataupun trotoar diketahui merupakan pegawai masing-masing pedagang, sedangkan kios pasar justru hanya dijadikan gudang oleh pedagang. - Warta Kota/Dwi Rizki

WARTA KOTA, TANAH ABANG - Puluhan tahun telah menjadi pusat perniagaan terbesar di Ibu Kota, kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat masih terlihat tidak tertata baik hingga kini. Kemacetan, Pedagang Kaki Lima (PKL) hingga permasalahan sampah masih terlihat menjadi masalah klasik, padahal upaya penertiban terus digiatkan Pemerintah Kotamadya Jakarta Pusat setiap saat.

Semrawutnya suasana Tanah Abang seperti yang dirasakan Warta Kota pada Senin (18/1/2016) siang.

Seperti biasanya, pada jam padat aktivitas, mulai dari pukul 12.00 WIB hingga 17.00 WIB, lingkar Pasar Tanah Abang menjadi wilayah terpadat di seluruh Ibu Kota.

Barisan kendaraan umum dan pribadi terlihat rapat berdesakan di lingkar Tanah Abang, mulai dari Jalan KH Mas Mansyur, Jalan Jati Bunder hingga Jalan Jatibaru ataupun sebaliknya.

Pada saat bersamaan, PKL dan parkir liar berbaur dengan para pejalan kaki yang melintas.

Kondisi yang terjadi sepanjang tahun itu memang bukan tanpa sebab, semrawutnya kawasan Tanah Abang dinilai Camat Tanah Abang, Hidayatullah lantaran gagalnya tata kota dan perencanaan. Sehingga, walau penertiban maupun pengawasan ketat dilakukan, penataan kawasan Tanah Abang tidak akan sukses dilakukan.

"Memang dari awal perencanaannya yang salah, misalnya soal parkir liar. Kalo bicara parkir liar, sarana parkir memang ada, tapi posisi di lantai delapan (Blok A), itu kan jauh, nggak ada orang yang mau parkir di atas, ujung-ujungnya ya parkir liar, emang orang kita ini cari yang gampang aja soalnya," ungkapnya saat ditemui Warta Kota di kawasan Tanah Abang, Senin (18/1/2016).

Selain masalah parkir liar, penyebab masih maraknya PKL pun berasal dari pedagang Blok A dan Blok B itu sendiri. Karena diungkapkannya, sebagian besar PKL yang berjualan di sisi jalan ataupun trotoar diketahui merupakan pegawai masing-masing pedagang, sedangkan kios pasar justru hanya dijadikan gudang oleh pedagang.

"Kejadian ini bisa dilihat waktu Senen-Kamis, pas ada Pasar Tasik. Itu ratusan PKL sengaja turun ke jalan karena tahu Pasar Tasik itu di luar pasar. Jadi penertiban dan pengawas sekarang sebenarnya udah bagus, tapi penindakan harus digeser, dari jalan justru ke sumber masalahnya (pedagang)," tegasnya.

Terkait pemecahan masalah tersebut dirinya pun telah menghubungi pengelola Pasar Tanah Abang, diantaranya PT Sarana Jaya dan Pembangunan Jaya beberapa waktu lalu.

Hal tersebut untuk percepatan pembangunan jembatan penghubung pada Blok B, stasiun, terminal dan kawasan pertokoan Tanah Abang.

"Jadi memang masalahnya itu soal tata kota, karena kalau nggak juga direalisasi, Tanah Abang pasti begitu-begitu aja, sampai kiamat juga nggak bakalan bener," tutupnya.

Penulis: Dwi Rizki
Editor: Hertanto Soebijoto

Gadis di Sumbar Diperkosa Teman Pacar saat Kelelahan Mendaki Gunung hingga Akhirnya Tewas

Berita Populer