Bulan Suci Ramadan

Cara Mencegah Ancaman Gula Darah Turun pada Penderita Diabetes Melitus Saat Berpuasa Ramadan

"Pada saat puasa, tidak hanya pola makan yang berubah, tapi juga mengubah pola minum obat," kata Prof Ketut.

Cara Mencegah Ancaman Gula Darah Turun pada Penderita Diabetes Melitus Saat Berpuasa Ramadan
Medscape
Ilustrasi puasa Bulan Suci Ramadan 

Saat berpuasa, Anda kerap merasa lemas, lapar, dan tidak bertenaga, terutama menjelang sore hari.

Namun, bagi penderita Diabetes Melitus (DM), perasaan lemah apalagi ditambah gejala lain seperti  jantung berdebar, gemetar, keringat dingin, tidak bisa diabaikan.

Pasalnya, pasien DM terutama tipe 2, gejala-gejala tersebut bisa jadi  hipoglikemia atau menurunnya gula darah. 

Pada tahap berat, hipoglikemia  pasien akan kehilangan kesadaran, kejang, koma, gangguan fungsi pembuluh darah hingga kontraksi detak jantung yang berujung pada kematian.

Secara umum, hipoglikemia adalah gangguan kesehatan yang terjadi ketika kadar gula dalam darah berada di bawah normal yaitu kurang dari 70 mg/dL. 

Gula darah normal  puasa mencapai 80-100 mg/dL. Sementara gula darah setelah makan 100-140 mg/dL

Menurut hasil studi Epidiar (The Epidemiology of diabetes and Ramadan) pada tahun 2004, angka kejadian hipoglikemia pada penderita DM tipe 2 meningkat 7,5 kali lipat selama Ramadan.

Pengobatan Bagi Penderitan Diabetes Melitus, Insulin Generasi Baru

Gejala hipoglikemia antara lain jantung  berdebar, gemetar, kelaparan, keringat dingin, cemas,  lemas, kesulitan  mengontrol emosi dan konsentrasi, serta kebingungan.

Penderita Diabetes Melitus di Indonesia semakin meningkat.

Data Federasi Diabetes International tahun 2017 penderita Diabetes mencapai 10,3 juta. Tahun 2045 diperkirakan jumlahnya meningkat menjadi 16,7 juta jiwa.

Halaman
1234
Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Intan Ungaling Dian
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved