Mutiara Ramadan

Puasa dan Daya Tahan Emosi oleh KH Cholil Nafis Lc MA PhD Ketua Komisi Dakwah MUI

"Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi ia tak mendapatkan apapun dari puasanya itu kecuali rasa lapar dan dahaga." (HR Ahmad).

Puasa dan Daya Tahan Emosi oleh KH Cholil Nafis Lc MA PhD Ketua Komisi Dakwah MUI
ISTIMEWA
Seorang pria membanting motornya di Jalan Letnan Soetopo, Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (7/2/2019), karena marah dan emosi setelah ditilang polisi. 

ALKISAH, pada bulan Ramadan, ada dua orang mitra bisnis yang sedang bertikai sengit di sebuah perkantoran karena masalah bisnis mereka sedang down.

Masing-masing menyampaikan argumen keras, sehingga tidak ada titik temu untuk mencari jalan keluar.

Lalu tiba-tiba seorang dari mereka menyalahkan dan mengeluarkan kata-kata dan tuduhan yang tidak pantas. Sementara kawannya mencoba menahan diri, meski rasa sakit hati memuncak.

Dalam batinnya bergejolak kuat karena merasa diperlakukan tidak adil oleh mitranya. Dia sudah mencoba bekerja secara profesional, namun rupanya mitranya menuduh secara sepihak.

Karena dia sadar sedang berpuasa, lalu ia berkata, "Maaf teman, tuduhan kamu itu tidak benar. Saya cukup mengatakan ini dan tidak mau melayani amarahmu karena saya sedang berpuasa." Sikap orang yang dituduh tersebut sungguh sangat mulia.

4 Golongan Orang yang Rajin Puasa Ramadan Tapi Tetap Masuk Neraka,

Ini Tata Cara Berbuka Puasa Sesuai Sunnah Rasulullah Saw, Jadwal Buka Puasa Hari ke-3 Ramadan

Ia sebenarnya sangat marah karena dituduh oleh mitranya tanpa bukti yang relevan dan kuat. Namun, sikap dan responnya menunjukkan sebagai pribadi yang matang.

Ia tidak merespon emosi balik, tetapi ia menunjukkan akhlaknya sebagai seorang yang berpuasa.

Sikap tersebut sejalan dengan spirit sebuah Hadits Qudsi yang ditakhrij oleh Imam Bukhari, yaitu: Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: "Puasa itu benteng, maka janganlah berkata keji dan jangan berbuat bodoh. Jika seseorang menentang atau memakinya, maka hendaklah ia berkata: "Sesungguhnya aku sedang berpuasa." --dua kali.

Contoh kasus di atas juga memiliki makna yang sama dengan sebuah Hadits lain yang cukup populer: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, selalu mengerjakannya dan tidak meninggalkan kebodohan, maka Allah tidak akan memberikan pahala atas puasanya." (HR al-Bukhari).

Narasi kedua Hadits di atas sesungguhnya ingin menegaskan puasa itu hakikatnya adalah "al-imsak" atau mengendalikan diri.

Inilah Doa Berbuka Puasa Menurut Rasulullah dan Menu Buka Puasa Ala Nabi Muhammad Rasakan Manfaatnya

Melatih Anak Berpuasa Bulan Suci Ramadan Disesuaikan Kemampuan Anak

Halaman
123
Editor: Lucky Oktaviano
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved