Pemilu 2019

Prabowo Minta Lembaga Survei Pindah ke Antartika, Ketum Persepi: Kami Menggunakan Metode Ilmiah

Prabowo Minta Lembaga Survei Pindah ke Antartika, Ketum Persepi: Kami Menggunakan Metode Ilmiah

Prabowo Minta Lembaga Survei Pindah ke Antartika, Ketum Persepi: Kami Menggunakan Metode Ilmiah
Warta Kota/Anggie Lianda Putri
Ketua Umum Perhimpunan Survei Opini Publik (Persepi) Philips Vermonte di kawasan Kebon Sirih Jakarta Pusat, Sabtu (20/4/2019). 

Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menyebut lembaga survei yang melakukan quick count adalah lembaga abal-abal yang tak bisa dipercaya oleh rakyat dan pantas diusir ke Benua Antartika.

“Kalian percaya tidak sama lembaga survei abal-abal? Hei tukang bohong, rakyat sudah tak percaya sama kalian, mungkin kalian harus pindah ke negara lain, mungkin bisa pindah ke Antartika, di sana kalian bisa bohongi pinguin,” ujar Prabowo di kediamannya, Jumat (19/4/2019) kemarin.

Mendengar hal tersebut, Ketua Umum Perhimpunan Survei Opini Publik (Persepi) Philips Vermonte membantah pernyataan Prabowo.

Sebab hasil hitung cepat sementara (quick count) yang disiarkan pihaknya menggunakan metode ilmiah dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.

"Penilaian exit poll dan quick count kami adalah aktivitas ilmiah (saintifik) yang ada metodenya dan bisa dipertanggung jawabkan. Ini bukan abal-abal atau ngarang atau aktivitas yang disebut menipu pinguin-pinguin. Kita adalah saintifik dan bukan main-main!," ujar Philips di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Sabtu (20/4/2019).

Ia pun memaparkan sejak Pemilu 2004 silam, rekam jejak quick count pihaknya jarang meleset dari hasil yang diumumkan oleh KPU.

"Kami ingin menyampaikan kalau quick count dan exit poll itu adalah kegiatan yang rutin sejak beberapa Pemilu lalu dan menurut catatan kami, record cukup baik, dalam arti tidak meleset dari hasil akhir yang dihitung secara manual oleh KPU," ungkap Philips.

Terlebih data-data yang dikumpulkan oleh lembaga survei ini diambil dari hasil beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS) langsung.

"Data itu diambil dari berbagai TPS, C1 yang dikumpulkan oleh orang di lapangan, pergerakan datanya dan lain-lain yang sebetulnya semua dilakukan secara terbuka. Bahkan orang boleh masuk dalam ruangan dan bisa melihat langsung bagaimana proses (penghitungan) itu dilakukan yang berjalan dari pagi sampai malam hari. Jadi sifatnya adalah publik, bentuknya partisipasi publik," ungkap Philips.

Penulis: Anggie Lianda Putri
Editor: Mirmo Saptono
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved