Pemilu 2019

Pemenang Pilpres Jangan Jumawa, yang Kalah Harus Lapang Dada

"Siapapun yang menang nanti. Baik incumbent atau penantang tidak boleh ada yang melakukan tindakan anarkistis. Apalagi menyalahkan yang menang

Pemenang Pilpres Jangan Jumawa, yang Kalah Harus Lapang Dada
kompas.com
hasil Quick Count sementara 

Hasil hitung cepat Pemilu 2019 hampir selesai diumumkan berbagai lembaga. Kedua pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden serta tim pemenangan diminta legowo menerima apa pun hasil Pilpres 2019 yang digelar hari ini.

Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, berharap semua pihak menggunakan kepala dingin menyikapi hasil proses demokrasi lima tahunan ini.

"Siapapun yang menang nanti. Baik incumbent atau penantang tidak boleh ada yang melakukan tindakan anarkistis. Apalagi menyalahkan yang menang," kata Ujang di Jakarta, Rabu (17/4/2019)

Berdasarkan hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei, hingga sore ini pasangan capres-cawapres nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin masing unggul sementara dari rivalnya, pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Hasil quick count Litbang Kompas, Jokowi-Makruf memperoleh 54,3 persen dan Prabowo-Sandi 45,7 persen. Sample yang masuk baru sekitar 76 persen.

Lembaga Survei lainnya, seperti Charta Politika, Poltracking, Indikator Politik Indonesia dan Indo Barometer juga mecatat data yang hampir sama. Meski sample data yang masuk belum sampai 100 persen.

Ujang menjelaskan, Pemilu Legislatif maupun Pilpres merupakan preses demokrasi biasa yang berulang setiap lima tahun. Karenanya, semua pihak diharapkan bisa menerima apapun hasil
yang didapat.

"Pemilu 2019 semua kontestan habis-habisan berkampanye. Tidak jarang kita temukan gesekan, nyinyiran, saling serang dan saling menafikan. Dalam demokrasi perbedaan pendapat itu hal biasa. Sekeras apapun perbedaan, yang penting tidak anarkistis," ujar Direktur Eksekutif Indonesia Political Review ini.

Kata Ujang, pihak yang menang tidak boleh jemawa. Demikian halnya pihak yang kalang harus tetap lapang dada. "Semua ada jalurnya. Jika ada kerebratan dari yang kalah, jalur hukum adalah yang terbaik. Pilpres hanya rutinitas lima tahunan biasa. Pasti ada yang menang dan ada pula yang kalah," papar dia.

"Yang kalah tidak boleh marah-marah. Menang atau kalah merupakan hal yang biasa," katanya lagi.

Seyogianya, kata Ujang, setiap kandidat harus siap menang dan kalah jika sudah menyatakan siap maju sebagai calon presiden dan wakil presiden.

"Jangan hanya siap menang, tapi tidak siap kalah," tutup Ujang.

Editor: Ahmad Sabran
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved