Menteri PUPR Basuki Hadimulyono Deg-degan di Balik Bilik Suara

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimulyono lega usai mencelupkan jarinya ke tinta sebagai pertanda sudah nyoblos pemilu.

Menteri PUPR Basuki Hadimulyono Deg-degan di Balik Bilik Suara
Warta Kota/Feryanto Hadi
Menteri PUPR Basuki Hadimulyono bersama sang istri nyoblos di TPS 01. 

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimulyono lega usai mencelupkan jarinya ke tinta, sebagai pertanda kontribusinya pada pesta demokrasi kali ini.

Datang bersama istri ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) 01 Komplek Widya Chandra, Kelurahan Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (17/4/2019) pagi, Basuki mengaku sempat deg-degan, terutama saat berada di balik bilik suara.

"Deg degan," kata Basuki mengawali perbincangan dengan wartawan.

Basuki menyebut, perasaannya lega setelah akhirnya hari yang ditunggu tiba.

"Setelah ramai hiruk pikuk kampanye sekarang kita lakukan pencoblosan. Mudah-mudahan Allah memberikan yang terbaik bagi bangsa Indonesia," kata dia seraya menolak menyebutkan siapa pasangan capres-cawapres yang ia pilih.

Tempat Pemungutan Suara (TPS) 01 Kelurahan Senayan yang berada di komplek menteri di Kompleks Widya Chandra mulai ramai dikunjungi para pemilih pada Rabu (17/4/2019).

Sejumlah menteri kabinet dan anggota DPR masuk dalam daftar pemilih tetap (DPT) 01 Kelurahan Senayan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Di antaranya adalah Menteri Perhubungan Budi Karya Sumardi, Menteri Pekerjaan Umum dan Pekerjaan Rakyat Basuki Hadimulyono, Mensesneg Pratikno dan beberapa nama beken lainnya seperti Kepala Badan Pemeriksa Keuangan Harry Azhar Aziz, politikus PAN Primus Yustisio dan istrinya Jihan Fahira.

Ketua RT07/01 Budi Satrio mengungkapkan, di TPS tersebut terdapat 205 pemilih tetap serta 57 pemilih tambahan.

"Jumlah tersebut belum ditambah dengan yang pakai form A5 yang mendaftar mencoblos di sini," ungkap Budi ditemui di TPS01.

Hanya saja, Budi mengakui, tingkat partisipasi pemilih di kawasan itu masih tergolong rendah. Pasalnya, DPT yang terdaftar, sebagian sudah tidak lagi tinggal di sana.

Hal itu Budi ketahui ketika hendak menyerahkan undangan untuk pencoblosan dimana undangan yang diterima hanya sekitar 60 persen.

"Sebagian warga saya itu sudah pindah rumah. Hanya saja, mereka tidak mengganti KTP sehingga namanya masih tercantum di sini. Mungkin biar gengsi, alamatnya di sini, makanya nggak pada rubah alamat KTP," kata Budi.

TPS 01, meski berada di kawasan elite, didesain cukup sederhana tanpa ornamen-ornamen khusus.

Penulis: Feryanto Hadi
Editor: Max Agung Pribadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved