Liputan Eksklusif Pinjaman Online

Pengutang Online Kapok Diteror Debt Collector

Tak selamanya meminjam uang lewat aplikasi pinjol menyenangkan. Ada juga kasus peminjam yang sampai diteror "debt collector".

Pengutang Online Kapok Diteror Debt Collector
Warta Kota
Grafis pinjaman online legal dan ilegal. 

Bola mata Bambang, bukan nama sebenarnya, terlihat berkaca-kaca saat mengenang duka dari keputusannya meminjam uang lewat aplikasi fintech peer to peer lending atau P2P. Istilah populernya adalah pinjaman online.

Warga Bekasi, Jawa Barat itu mengaku terlibat utang atau pinjaman online (pinjol) untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Prosedur pinjol tidak ribet. Menurutnya, saat itu ia cukup mengirimkan fotokopi Kartu Tanpa Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK). Tak butuh waktu lama, sejumlah dana yang diinginkan sudah cair.
Pinjaman perdana itu tak bermasalah. Bambang lantas kembali menggunakan aplikasi pinjol yang sama.

Namun saat utang yang kedua jatuh tempo, dirinya sedang tidak ada uang karena harus mencukupi keperluan orangtua di kampung. Ia juga harus menutup biaya sekolah adik-adiknya.

Alhasil, Bambang tak bisa memenuhi kewajibannya. Ia pun menunggu waktu gajian. Di sinilah persoalannya berawal.

Bambang mulai diteror penagih dari perusahaan aplikasi pinjol. Tindakan penagihan mulai dari yang sifatnya reminder sampai dengan intensif agar dirinya membayar kewajiban.

"Yang kedua yang bermasalah. Saya enggak bisa bayar. Kalau paksain bayar, saya enggak bisa hidup, buat makan bayar kosan dan lainnya. Tapi orang pinjaman online (penagih) itu teror terus agar saya segera bayar. Padahal sudah saya jelasin," ujarnya kepada Warta Kota, akhir Maret lalu.

Sehari dua hari, Bambang membiarkan. Namun ia mulai gusar ketika penagih mulai mengancam hingga menebar pesan kepada nomor-nomor yang tersimpan di dalam ponselnya.

Bambang rupanya tak mengetahui bila ada ketentuan layanan atau 'terms and conditions' pada aplikasi pinjol yang berbunyi, "Dengan menggunakan aplikasi ini, Anda memberikan hak kepada kami untuk mengumpulkan, menyimpan, menyalin, memproses, membuka informasi, mengakses, mentransfer, mengkaji, mengungkap, dan menggunakan data anda yang diperoleh melalui antara lain: contacts, yakni otorisasi kami untuk mendapatkan izin kontak di ponsel Anda."

"Saya sabarin aja, kadang enggak ditanggapi. Tapi yang bikin malu kan, kenapa semua kontak yang ada di HP (ponsel) saya di-SMS-in kalau saya belum bayar utang. Yang lebih kaget lagi, denda karena telat satu bulan itu tiga kali lipat dari uang yang saya pinjam. Habis uang gajian, saya akhirnya gadai BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor) karena benar-benar enggak ada uang lagi. Kapok pakai online-online lagi," kata Bambang.

Halaman
1234
Editor: Eko Priyono
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved