Leisure

Mendengarkan Cerita 'Dokter' Pepeng yang Tidak Henti Bercerita tentang Kopi

Jika sedang berada di Sleman, DI Yogyakarta, cobalah mampir menemui 'dokter kopi' Pepeng di kedai 'Klinik Kopi'. Sruput kopi dan dengarkan ceritanya.

Mendengarkan Cerita 'Dokter' Pepeng yang Tidak Henti Bercerita tentang Kopi
Warta Kota/Heribertus Irwan Wahyu Kintoko
Pepeng, pemilik kedai 'Klinik Kopi', berpose bersama Abdullah 'Arey' Arifin, salah satu 'pasiennya' yang juga pecinta kopi dari Jakarta, di 'Klinik Kopi', Jalan Kaliurang Km 7, Sleman, DI Yogyakarta, akhir Maret 2019. 

Ada banyak obrolan yang kami lakukan selama hampir 30 menit di Klinik Kopi, Jalan Kaliurang Km 7, Sleman, DI Yogyakarta, di akhir Maret 2019.

Sambil membuat seduhan kopi, Pepeng, si empunya kedai kopi yang pernah dipakai sebagai salah satu lokasi syuting film Ada Apa dengan Cinta 2 (2016) itu, bahkan sempat memperlihatkan tayangan video di layar kecil televisinya.

Di video itu yang direkamnya medio 2017 misalnya, Pepeng pertama kali menginjakkan kakinya di Sumatera Utara. Ia benar-benar dibuat penasaran dibalik proses proses biji kopi menjadi bubuk kopi semi washed wethull.

Pepeng sedang berpose di kedainya, 'Klinik Kopi', di Jalan Kaliurang Km 7, Sleman, DI Yogyakarta, akhir Maret 2019.
Pepeng sedang berpose di kedainya, 'Klinik Kopi', di Jalan Kaliurang Km 7, Sleman, DI Yogyakarta, akhir Maret 2019. (Warta Kota/Heribertus Irwan Wahyu Kintoko)

Dari Yogyakarta, Pepeng transit di Jakarta lalu terbang menuju ke Silangit, bandara kecil yang tidak jauh dari Balige, tempatnya bermalam. "Kami menyusur dari Lintong hingga Dolok Sanggul," ujar Pepeng.

Sebagai 'dokter kopi', Pepeng harus mengetahui detail proses dari biji kopi hingga pembuatan menjadi bubuk kopi siap seduh.

"Rata-rata pemrosesan kopi dilakukan dengan semi washed wethull. Kami jarang menemukan petani atau pemroses kopi membuat natural atau honey proses, kecuali skala kecil atau uji coba," katanya.

Klinik Kopi: Sekali Seduh, Kita Bersaudara!

Sebelumnya, Pepeng punya 3 jenis kopi yang dibuat dengan proses yang sama, yakni huta batak, tabodaina serta parsaulian. Diantara tiga jenis kopi itu, cara membedakan adalah proses resting gabah serta air yang dipakai saat fase fermentasi.

"Aek Natolu nama kopinya. Beda dengan kopi-kopi sebelumnya adalah punya jejak manis diakhirnya. Warga dan prosesor disana lebih familiar nama onan ganjang," jelas Pepeng yang tahu betul tentang kopi dan beragam rasanya.

Di tengah obrolan yang begitu mengasyikkan tersebut, Pepeng tiba-tiba mengambil dua gelas berisi air putih. Awalnya, ia tidak memberi tahu jenis air putih dalam dua gelas kecil tadi. "Coba cicipi air putih ini satu-satu," kata Pepeng.

Pepeng sedang berpose di kedainya, 'Klinik Kopi', di Jalan Kaliurang Km 7, Sleman, DI Yogyakarta, akhir Maret 2019.
Pepeng sedang berpose di kedainya, 'Klinik Kopi', di Jalan Kaliurang Km 7, Sleman, DI Yogyakarta, akhir Maret 2019. (Warta Kota/Heribertus Irwan Wahyu Kintoko)

Setelah dicicipi dengan sendok teh, saya dan Abdullah 'Arey' Arifin --salah satu pasien yang datang ke Klinik Kopi-- punya rasa senang yang sama pada air putih yang ada di gelas pertama.

Halaman
123
Penulis: Irwan Wahyu Kintoko
Editor: Irwan Wahyu Kintoko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved