Terdengar Keluhan Warga Limo Terdampak Proyek Tol Desari

Tidak dapat dipungkiri, masih ada sejumlah warga yang mengeluh karena proses pembangunannya dinilai mengganggu.

Terdengar Keluhan Warga Limo Terdampak Proyek Tol Desari
Warta Kota/Gopis Simatupang
Progres pembangunan Tol Desari di RT 04/06 Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Kota Depok, Kamis (11/4/2019). 

Kehadiran Tol Depok-Antasari (Desari) dinilai penting sebagai penghubung Jakarta dengan Kota Depok.

Namun, tak dapat dipungkiri, masih ada sejumlah warga yang mengeluh karena proses pembangunannya dinilai mengganggu.

Warga Kompleks Villa Santika di RT 04/06 Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Kota Depok, misalnya. Mereka merasa kenyamanannya terganggu sebagai imbas pembangunan Tol Desari seksi II yang membelah Kecamatan Limo.

Ketua RT 04/06 Kelurahan Grogol, Hari Sakti Wibowo, mengatakan, tiap kali hujan turun, wilayahnya kerap dilanda kebanjiran karena pekerja proyek Tol Desari menguruk Kali Grogol. Di sisi lain, pengembang belum menyediakan gorong-gorong yang memadai sebagai saluran air kala hujan.

"Kalau hujan selalu banjir, karena tidak ada saluran. Yang dibuat di sisi jalan tol hanya kecil dan tak dapat menampung air hujan," kata Hari saat ditemui wartawan, Kamis (11/4/2019).

Sementara itu, saat matahari sedang terik, bilang Hari, suasana di sekitar Villa Santika bak gurun pasir. Pasalnya, debu bertebaran tiap kali truk pengangkut tanah melintasi wilayah pemukiman. Hal itu dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan warga.

"Harusnya ada yang nyemprot jalan lingkungan, biar enggak ngebul," bilang Hari.

Hari mengaku warga telah menyampaikan protes kepada pengembang atas berbagai dampak yang dirasakan imbas pembangunan Tol Desari. Namun, hingga kini belum ada respon yang diharapkan, seperti pembuatan saluran dan penyemprotan jalan lingkungan.

Tony, seorang warga, mengaku sangat dirugikan dengan pembangunan proyek Tol Desari. Dirinya meminta agar pengembang bertanggung jawab mengatasi banjir yang terjadi. "Semoga bisa diselesaikan masalah banjir yang ada," katanya.

Selain keluhan tersebut, warga juga berharap pengembang memasang batas proyek. Karena ketiadaan batas itu membuat anak-anak bebas bermain di kawasan proyek dan dapat membahayakan keselamatan mereka.

Sebelumnya, pertengahan Februari lalu warga Kelurahan Krukut, Kecamatan Limo, juga melakukan protes dengan mendatangi kantor kontraktor proyek Tol Desari karena lingkungannya kebanjiran. Saat itu, warga juga meminta ganti rugi karena banjir membuat barang elektronik warga rusak.

Senada dengan warga Kelurahan Grogol, warga Kelurahan Krukut juga menuntut pengembang membuat saluran demi mencegah banjir.

Untuk diketahui, pembangunan Tol Desari terbagi dalam tiga seksi. Seksi I ruas Antasari-Brigif/Cinere sepanjang 5,80 KM, seksi II ruas Brigif-Sawangan sepanjang 6,30 KM dan seksi III Sawangan-Bojong Gede, Bogor sepanjang 9,5 KM.

Nilai investasi keseluruhan Tol Desari sebesar Rp 4,886 triliun dengan biaya konstruksi sebesar Rp 3,334 triliun. Pengusahaan Tol Desari dilakukan PT Citra Waspphutowa dengan saham mayoritas dimiliki PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) sebesar 62,50 persen, PT Waskita Toll Road sebesar 25 persen dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) sebesar 12,50 persen.

Penulis: Gopis Simatupang
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved