Berita Kota Bekasi

Warga di Sekitar TPST Bantargebang Belum Dapat Uang Kompensasi Bau

Pemkot Bekasi belum membuat laporan usulan pencairan dana kompensasi bau TPST ke DKI Jakarta untuk warga setempat.

Warga di Sekitar TPST Bantargebang Belum Dapat Uang Kompensasi Bau
Warta Kota/Muhammad Azzam
TPST Bantargebang Kota Bekasi. 

BEKASI, WARTAKOTALIVE.COM -- Warga yang tinggal berdekatan dengan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang milik DKI Jakarta menyayangkan sikap Pemerintah Kota Bekasi yang terkesan lamban untuk memenuhi hak-hak mereka.

Memasuki triwulan kedua, Pemkot Bekasi belum membuat laporan usulan pencairan dana kompensasi bau TPST ke DKI Jakarta untuk warga setempat.

"Kompensasi uang bau TPST Bantargebang kan sudah menjadi agenda rutin setiap triwulan dalam setahun. Tapi kenapa Kota Bekasi tidak sigap membuat laporan pencairan ke DKI. Kok lambat sekali kerjanya," kata Wandi (49) warga Kampung Cikiwul RT 05/04, Kelurahan Cikiwul, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, Selasa (9/4).

Wandi mengatakan, ada sekitar 18.000 kepala keluarga di tiga kelurahan yang menanti uang kompensasi bau sampah.

Mereka tinggal di daerah Kelurahan Cikiwul, Ciketing Udik dan Sumurbatu.

Sebetulnya warga dari tiga kelurahan ini sudah sangat menderita hidup berdampingan dengan TPST.

Sebab dampak keberadaan TPST bakal merusak lingkungan, apalagi metode pengolahan sampah menjadi listrik baru diresmikan beberapa pekan lalu sementara sebelumnya masih sebatas pada sanitary landfill (ditumpuk dengan lapisan tanah) saja.

"Sekarang saja kandungan air tanah di sini sudah tercemar, sehingga sangat berbahaya bila dikonsumsi," ujar Wandi.

Sementara itu Mardi (45) warga lainnya menambahkan uang bantuan senilai Rp 600.000 per triwulan itu sangat membantu menambah biaya kebutuhan rumah tangganya.

"Lumayan bisa dipakai untuk beli beras dan air galon. Kita minum beli air galon karena tidak mungkin pakai air tanah soalnya ngeri kandungannya sudah tercemar sampah," kata pria yang bekerja sebagai petugas keamanan di salah satu pabrik di wilayah setempat.

Meski nilai bantuan tidak setimpal dengan bau dan dampak lingkungan atas keberadaan TPST, namun dia tetap bersyukur.

Dia berharap agar bantuan tersebut dinaikan hingga menjadi Rp 1 jutaan.

"Sebetulnya dibayar Rp 1 juta pun tidak sebanding dengan dampak lingkungan di sekitar TPST, tapi yah kalau dikasih Rp 1 juta mah kita bersyukur," imbuhnya. (faf)

Penulis: Fitriyandi Al Fajri
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved