Transportasi Jakarta

Apa? Utang MRT Jakarta ke Jepang Lunas Dalam 40 Tahun

Utang Pemerintah Indonesia kepada Jepang untuk pembangunan mass rapid transit (MRT) akan dibayarkan secara bertahap selama 40 tahun.

Apa? Utang MRT Jakarta ke Jepang Lunas Dalam 40 Tahun
Instagram
Komikus Jepang, Onan Hiroshi, menyindir Pemerintah Indonesia terkait utang pembangunan MRT Jakarta. 

PALMERAH, WARTAKOTALIVE.COM -- Division Head Corporate Secretary PT Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta Muhamad Kamaluddin menyebutkan, utang Pemerintah Indonesia kepada Jepang untuk pembangunan mass rapid transit (MRT) akan dibayarkan secara bertahap selama 40 tahun.

Tenor pelunasan utang selama 40 tahun dengan masa tenggang atau grace period selama 10 tahun.

Itu artinya, Pemerintah Indonesia baru mulai mencicil pinjaman 10 tahun setelah pinjaman itu ditandatangani.

"Sudah masuk dalam cicilan kan untuk 40 tahun pembayarannya dan sebetulnya sekarang belum masuk dalam pembayaran, masih ada grace period selama 10 tahun, baru nanti tahun ke 10 akan mulai pembayaran," kata Kamaluddin, Senin (8/3/2019).

Terungkap Ahmad Dhani Kikuk di Depan Maia Estianty & Mulan Jameela dari Video Jadul Mama Lauren

Ini Dia Ramalan Zodiak Selasa 9 April 2019 Cancer Kreatif, Sagitarius Dilema, Capricorn Boros

Lokasi SIM Keliling di Jakarta dan Gerai Samsat Bekasi Tangerang dan Depok Hari Selasa (9/4/2019)

Peringatan Dini BMKG: Waspadai Hujan Disertai Petir di Jaksel dan Jaktim

LIVE Streaming Indosiar! Final Piala Presiden 2019, Adu Ngotot Persebaya Surabaya Vs Arema FC

Perjanjian utang itu sudah sesuai dengan kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dan Jepang, khususnya JICA (Japan Internasional Cooperation Agency).

"Tidak ada yang namanya keterlambatan pembayaran oleh pemerintah dan MRT Jakarta," kata dia.

Penumpang antre untuk naik ke kereta MRT, Minggu (31/3).
Penumpang antre untuk naik ke kereta MRT, Minggu (31/3). (Warta Kota/Adhy Kelana)

Biaya pembangunan MRT

Direktur Keuangan PT MRT Jakarta Tuhiyat menjelaskan awalnya pinjaman yang diajukan pemerintah ke JICA untuk Fase I sebesar 123,36 miliar yen atau Rp 14,2 triliun.

Namun dalam prosesnya, terdapat revisi desain guna menambah kemampuan daya tahan gempa, yaitu dari magnitudo 7 menjadi 9.

"Itu (penambahan biaya) yang dinamakan price adjusment dari variatif order karena kontraknya sifatnya design and build. Begitu sambil desain, sambil bangun, di lapangan ada regulasi baru," kata Tuhiyat.

Halaman
123
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved