Advertorial

Memberikan Dukungan Pasien Lewat Group WhatsApp

Banyak suka dan duka yang dialami bidan berusia 40 tahun ini. Salah satu pengalaman menariknya, saat Fitri membantu persalinan bayi kembar.

Memberikan Dukungan Pasien Lewat Group WhatsApp
Istimewa
Bidan Fitri Suntia tengah memeriksa pasien di kliniknya, Jalan Anoa Raya No.36, Rt.002 Rw.08, Kelurahan Cibodas Baru, Kota Tangerang. 

MENJADI seorang bidan rupanya sudah dicita-citakan Fitri Suntia. Menurutnya, bekerja sambil menolong orang adalah pekerjaan mulia. Apalagi terkait nyawa orang. Selama menjadi seorang bidan di Kota Tangerang pun, Fitri sudah banyak merasakan asam dan manisnya dalam menangani ibu-ibu hamil. Ia pun mengungkapkan rasa dilemanya membantu ibu muda yang melahirkan di era milenial ini.

Sebelum menjadi bidan, Fitri mulai bersekolah mengambil ilmu keperawatan di Kota Tangerang. Mojang asal Bandung ini lulus dari sekolah tersebut pada tahun 1996.

Namun setelah lulus dari Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), dirinya kembali ke daerah asalnya yakni Kota Bandung untuk melanjutkan kuliahnya sebagai perawat selama kurun waktu tiga tahun. Lalu pada tahun 2003, Fitri lulus sebagai bidan di sekolah Poltekkes Cirebon.

"Awal kerja saya menjadi asisten bidan terlebih dahulu. Masih bidan junior," ujar Fitri saat dijumpai Warta Kota di kliniknya di Jalan Anoa, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, Kamis (31/1/2019).

Lambat laun karier Fitri pun semakin meroket. Ibu dua anak itu mendapat panggilan menjadi bidan di RS Arya Medika, Jatake, Kota Tangerang. Bahkan di tempat kerjanya ini, dirinya pun mendapatkan jabatan strategis, yakni sebagai koordinator bidan. 

“Karena saat itu merasa lelah, saya pun berhenti bekerja. Setelah melahirkan anak pertama, saya mulai membuka klinik ini." ungkapnya.

Berbekal teori dan praktikum selama sekolah, ditambah pengalaman bekerja di rumah sakit, Fitri dengan mudah membuka klinik sendiri.  Saat membuka klinik bidan sendiri, Fitri perlahan kedatangan banyak pasien. Beragam persoalan medis pasiennya ditangani oleh bidan Fitri. Bahkan, bidan Fitri juga masih sempat memantau perkembangan anak-anak yang dilahirkan di kliniknya. Utamanya perkembangan gizi dan tumbuh kembang. 

Banyak suka dan duka yang dialami bidan berusia 40 tahun ini. Salah satu pengalaman menariknya, saat Fitri membantu persalinan bayi kembar. “Pernah waktu saya kedatangan pasien, saat itu pasien sudah mau melahirkan, dan ternyata bayinya kembar. Pasien ini sebelumnya belum pernah memeriksakan kandungannya ke bidan maupun dokter kandungan. Saya coba rujuk ke RS, namun melihat kondisi ketubannya yang sudah pecah dan kepala bayi sudah keluar, maka saya pun harus menangani kelahiran tersebut untuk menyelamatkan nyawa Ibu dan bayinya. Alhamdulillah ibu dan bayinya selamat walaupun sang ibu sempat mengalami pendarahan, tetapi semua bisa teratasi karena saya langsung sigap membantu. Lega sekali rasanya saat itu saya bisa menolong ibu melahirkan 2 bayi sekaligus,” cerita Fitri penuh haru.

Dan yang paling terasa adalah saat menangani ibu-ibu muda usia milenial. Butuh kesabaran dalam menghadapi pasien golongan ini. "Sekarang-sekarang ini, di tahun milenial kadang merasa dilema menangani ibu - ibu muda yang sedang hamil," beber Fitri. 

Menurutnya di era modern semacam ini teknologi berkembang begitu cepat dan ibu-ibu generasi milenial banyak mengkonsumsi informasi. Sisi baiknya, para pasien menjadi lebih peduli terhadap masa kehamilan. Hanya sisi buruknya, mereka mempunyai ketakutan berlebihan. 

Halaman
123
Editor: Ichwan Chasani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved