Otomotif

Draft Dikabarkan sudah Final, Ini Bocoran Regulasi Kendaraan Listrik di Indonesia

Pembahasan peratusan industri kendaraan listrik di Indonesia dikabarkan sudah mencapai final. Apa saja bocorannya?

Draft Dikabarkan sudah Final, Ini Bocoran Regulasi Kendaraan Listrik di Indonesia
Istimewa
WULING Baojun E100, mobil listrik pabrikan China 

Perusahaan industri KBL berbasis baterai bermerek nasional, komposisi sahamnya paling sedikit 51 persen dimiliki oleh pemegang saham Indonesia dan berbasis di dalam negeri.

PERATURAN Presiden (Pepres) tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) untuk Transportasi Jalan sudah mencapai final.

Regulasi kendaraan listrik ini disebutkan sebentar lagi dikeluarkan oleh Pemerintahan Presiden Joko Widodo.

“Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai yang selanjutnya disebut KBL Berbasis Baterai adalah kendaraan yang digerakkan dengan motor listrik, dan mendapatkan pasokan sumber daya tenaga listrik dari baterai secara langsung maupun dari luar,” bunyi Pasal 1, poin 3, pada Bab I Ketentuan Umum, yang menjelaskan definisi apa itu KBL.

Dari bocoran draf terakhir, seperti dikutip Wartakolive.com dari Kompas.com, terjadi beberapa ubahan dan ketentuan menarik yang dalam rancangan Pepres ini.

Salah satunya, adalah ketentuan tingkat kandungan lokal dalam negeri (TKDN) yang mengikat, baik untuk industri KBL maupun komponen pendukung.

Pabrik Otomotif di Indonesia Berencana Menjual Kendaraan Listrik

Kemenperin Tarik Investor Jepang untuk Bikin Baterai Kendaraan Listrik

Mobil listrik Baojun E200 siap dipasarkan September 2018.
Mobil listrik Baojun E200 siap dipasarkan September 2018. (Carnewschina.com)

Ketentuan ini terbagi menjadi dua golongan. Pertama, untuk KBL jenis sepeda motor, termasuk roda tiga. Kedua, KBL berbasis baterai beroda empat atau lebih.

Level TKDN yang wajib dipenuhi juga terbagi dalam beberapa tahapan di tiap jenis KBL.

Untuk KBL sepeda motor (motor listrik), industri wajib menggunakan komponen dalam negeri dengan TKDN minimum 40 persen, untuk periode produksi 2019-2023.

Level TKDN kemudian harus meningkat menjadi 60 persen, periode 2023-2025. Kemudian, mencapai minimum 80 persen periode 2025 dan seterusnya.

Halaman
123
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved