Banjir Bandang Sentani

Banjir Bandang Sentani Sudah Surut, BNPB: 4.150 Orang Mengungsi dan Masih Dilakukan Pencarian

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho: 4.150 pengungsi akibat bencana banjir bandang di Sentani, Jayapura, Papua.

Banjir Bandang Sentani Sudah Surut, BNPB: 4.150 Orang Mengungsi dan Masih Dilakukan Pencarian
Tribunnews.com/Gita Irawan
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugorho di Graha BNPB Jakarta Timur ketika menyampaikan perkembangan terakhir bencana banjir bandang di Sentani Jayapura pada Minggu (17/3/2019) pukul 16.00 WIB. 

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan terdapat 4.150 pengungsi akibat bencana banjir bandang di Sentani, Jayapura, Papua.

Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, pengungsi tersebut saat ini tersebar di enam titik.

"Jumlah pengungsi 4.150 orang pengungsi di enam titik pengungsian yakni, 1.450 di Komplek Perumahan Gajah Mada Sentani, 1.000 orang di rumah Dinas Bupati Jayapura, 600 orang di Komplek BTN Bintang Timur Sentani, 700 orang di Sekolah HIS Sentani, 200 orang di Kantor Bupati Jayapura, dan 200 orang di Doyo," katanya.

Sutopo Purwo Nugroho menyampaikan keterangan dalam konferensi pers terkait penanganan bencana banjir bandang di Sentani Jayapura H+1 di Graha BNPB Jakarta Timur pada Minggu (17/3/2019) pukul 16.00 WIB.

Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, jumlah pengungsi tersebut fluktuatif.

"Itu karena ada yang kembali ke rumah untuk melakukan perbaikan. Karena banjir sebagian besar sudah surut," kata Sutopo.

Korban banjir bandang yang melanda Sentani, Jayapura, Papua terus bertambah.
Korban banjir bandang yang melanda Sentani, Jayapura, Papua terus bertambah. (ACT)

Korban Tewas Banjir Bandang Sentani Papua Hingga Minggu Sore 63 Orang

Kisah Dramatis Penyelamatan Bayi 5 Bulan yang Terjebak di Kolong Rumah Oleh Anggota Yonif

Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, saat ini fokus utama penanganan bencana di sana adalah evakuasi pencarian dan penyelamatan korban yang dilakukan oleh tim SAR gabungan baik oleh BPBD, TNI, Polri, Basarnas, PMI, SKPD di sana, dan relawan.

"Evakuasi, pencarian dan penyelamatan korban masih dilakukan di daerah terdampak. Posko didirikan untuk memudahkan koordinasi. Sebagian bantuan disalurkan kepada masyarakat terdampak," kata Sutopo Purwo Nugroho.

Ia mengatakan, masa tanggap darurat pertama ini ditetapkan selama 14 hari terhitung mulai hari ini, Minggu (17/3/2019).

Ia mengatakan, BNPB akan mendampingi Pemda khususnya BPBD Jayapura untuk aktivasi posko.

BNPB juga meminta Kepala Daerah segera menetapkan masa berlaku status tanggap darurat, menetapkan organisasi tanggap darurat sehingga koordinasi antara Kementerian Lembaga, SKPD, relawan, NGO dan sebagainya dapat ditangani lebih baik.

"Kebutuhan mendesak yang saat ini diperlukan adalah makanan siap saji, selimut, air bersih, obat-obatan, pakaian, terpal, peralatan memasak, dan alat berat," kata Sutopo.

Ia mengatakan, tenaga medis baik dokter maupun perawat di wilayah Papua khususnya di Kabupaten dan Kota Jayapura mencukupi sehingga tidak perlu dikerahkan dari luar wilayah.

"BPBD tetangga yang ada di sekitar Papua untuk segera dikerahkan membantu penanganan darurat BPBD Kabupaten dan Kota Jayapura," kata Sutopo.

Banjir bandang yang melanda sembilan kelurahanan di Kecamatan Sentani Kabupaten Jayapura Provinsi Papua terjadi pada Sabtu (16/3/2019) pukul 21.30 WIT.

Editor: Mirmo Saptono
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved