Tidak seperti di Eropa, Disrupsi oleh Fintech di Indonesia Tidak Memicu Keributan

Pergeseran atau disrupsi oleh fintech di Indonesia tidak sampai menimbulkan keributan seperti di Eropa.

Tidak seperti di Eropa, Disrupsi oleh Fintech di Indonesia Tidak Memicu Keributan
Istimewa
ILUSTRASI Perusahaan Fintech (Financial Technology) 

Pergeseran atau disrupsi oleh fintech di Indonesia tidak sampai menimbulkan keributan seperti di Eropa.

WARTA KOTA, PALMERAH--- Perkembangan industri digital turut merambah dunia keuangan atau kerap disebut fintech.

Pertumbuhan penyedia jasa keuangan digital atau teknologi finansial (financial technology/ fintech) saat ini bagaikan jamur di musim hujan.

Perusahaan fintech ini menawarkan berbagai kemudahan transaksi keuangan dan menjadi pesaing bagi industri perbankan.

Penjualan Xpander Tembus 100.000 Unit Dalam Waktu 18 Bulan

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menilai pergeseran atau disrupsi yang ditimbulkan oleh kemuculan fintech ini tidak menimbulkan keributan di Indonesia, tidak seperti di beberapa negara lain seperti di Eropa.

"Indonesia ini sudah terjadi dua kali disruption, kalau kata Profesor Rhenald Khasali revolusi senyap industri fintech Indonesia," kata Ketua Harian AFPI Kusaryansyah, Kamis (14/3/2019).

Seperti revolusi yang pertama di payment (fintech pembayaran), ada Go-Pay ada OVO.

"Mereka posisinya setara atau bahkan lebih dari e-money, flazz, tanpa ada ribut-ribut," kata Kusaryansyah.

Total Investor Pasar Modal Mencapai 2,1 Juta Investor

Kusaryansyah mengatakan, tidak adanya keributan ketika adanya disrupsi tersebut lantaran segmen yang dikembangkan oleh fintech adalah segmen-segmen yang tidak berdampak langsung terhadap bisnis perbankan.

Adapun revolusi kedua yang terjadi disebabkan oleh fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online.

Halaman
1234
Editor: Aloysius Sunu D
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved