Pengamat Minta agar Kepala Dinas SDA Harus Peduli Lingkungan
Teguh Hendrawan selaku Kepala Dinas SDA DKI Jakarta, yang dipecat Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan hanya fokus pada pengalihan.
Banjir yang melanda sejumlah kawasan di utara wilayah Jakarta pada berapa waktu lalu dinilai Pengamat Perkotaan Universitas Trisakti, Nirwono Joga sebagai bukti gagalnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengelola air.
Dirinya pun meminta agar Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta merupakan seorang yang peduli lingkungan.
Permintaan tersebut ditegaskannya sangat beralasan.
Sebab, Teguh Hendrawan selaku Kepala Dinas SDA DKI Jakarta yang dipecat Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan hanya fokus pada pengalihan, bukan pemanfaatan air.
Hal itu ditunjukkannya lewat banjir yang melanda beberapa wilayah di Kemang, Cilandak Jakarta Selatan dan Mangga Dua, Pademangan, Jakarta Utara pada beberapa waktu lalu. Banjir tersebut katanya dapat diredam apabila Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuat sistem penampungan air pada wilayah hulu.
"Gubernur harus mengevaluasi Kepala SDA dan menggantinya dengan yang peduli lingkungan, melihat pentingnya air bagi kota bukan justru mengalirkan air sebanyak-banyaknya ke laut lewat normalisasi (sungai)," ungkapnya dihubungi pada Selasa (12/3/2019).
Langkah pengelolaan air guna mencegah banjir sekaligus meningkatkan cadangan air tanah disebutkan dalam lima tahapan. Tahapan pertama adalah naturalisasi atau mengembalikan kembali sebanyak 13 sungai besar yang membelah Ibu Kota.
Selanjutnya adalah revitalisasi sebanyak 44 waduk dan 14 situ di wilayah Ibu Kota yang kini masih terabaikan. Revitalisasi pun dilakukan pada seluruh saluran air, mulai dari skala mikro, meso hingga makro agar tidak ada yang tersumbat.
"Naturalisasi sungai, bukan normalisasi atau betonisasi sungai. Optimalisasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang sudah ada sebagai daerah resapan air dan terus menambah RTH baru, bukan Ruang Publik Terbuka Ramah anak (RPTRA)," ungkapnya.
Tahapan terakhir adalah mengedukasi masyarakat untuk menjadi duta air, yaitu lewat pembuatan sumur resapan dan bio pori di optimaisasi halaman rumah, perkantoran, kantor pemerintahan dan lainnya.
"Tujuannya supaya tidak ada air yang terbuang, tersalurkanke situ-embung, bukan cuma lewat saja dialirkan ke laut. Tapi semua diresapkan ke dalam tanah atau ditampung sebagai cadangan air," tutupnya.
Dibayangi Banjir
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan lewat akun Instagramnya, @aniesbaswedan pada Sabtu (9/3/2019) meninjau langsung kondisi sejumlah rumah pompa.
https://www.instagram.com/p/BuyhVULni25/
Dalam statusnya, Anies menyebutkan cuaca ekstrem masih membayangi wilayah Ibu Kota sepanjang bulan Maret 2019. Curah hujan yang tinggi disertai besarnya debit air kiriman dari Bogor dan Tangerang membuat sejumlah wilayah Ibu Kota rentan genangan dan banjir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/teguh-hendrawan-sda.jpg)