Advertorial

Menganggap Pasien Seperti Keluarga Sendiri

Begitu senang menjadi bidan, sejak awal mulai terjun di profesi ini, Euis sama sekali tidak takut menghadapi pasien yang akan menghadapi persalinan.

Menganggap Pasien Seperti Keluarga Sendiri
istimewa
Bidan Euis Nawati tengah melayani konsultasi pasien di tempat praktiknya, Kampung Karehkel RT.003/002, Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, Bogor. 

LEUWILIANG – Terjun menjadi tenaga kesehatan yang mulia, merupakan profesi yang disyukuri oleh Bidan Euis Nawati. Walau pun sejak awal Euis sama sekali tidak bercita-cita menjadi bidan, namun Euis mengaku tak kuasa mengukur seberapa besar kebahagiaan ketika dirinya berhasil membantu proses persalinan ibu hamil dan melahirkan bayi yang sehat.

“Saya mencintai pekerjaan saya, apalagi kalau misalnya ada orang yang membutuhkan pertolongan saya dan berhasil, itu tidak bisa diukur dengan nilai apapun rasa bahagianya, pokoknya saya senang di profesi bidan ini," kata Euis.

Bidan yang membuka praktik di kampung halamannya di Kampung Karehkel, Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor ini, mengejar cita-cita menjadi bidan di Politekes Bandung Prodi Kebidanan Bogor dan berhasil lulus menjadi bidan pada tahun 2002 lalu.

Begitu senang menjadi bidan, sejak awal ia mulai terjun di profesi ini, Euis juga sama sekali tidak takut menghadapi pasien yang akan menghadapi proses persalinan. Ia juga tak takut melihat darah karena yang ada dipikirannya hanyalah bagaimana sang bayi lahir dengan sehat dan sang ibu selamat.

Selama ia menjadi bidan, tentunya suka dan duka juga ia rasakan. Euis mengaku bahwa dirinya selain membuka praktik di kampung halaman, ia juga bekerja di Rumah Sakit PMI Kota Bogor. Hal ini kerap membuatnya khawatir apabila ada warga di kampungnya datang ke tempat praktiknya dan hendak melahirkan, walau pun ia juga menyediakan bidan jaga di rumahnya.

Selain itu, Euis juga mengaku harus bisa menghadapi kondisi-kondisi pasien seperti pada saat proses persalinan yang menurutnya harus disesuaikan. Terkadang Euis mendapati pasien yang cukup tegang yang biasanya terjadi pada ibu hamil anak pertama. Namun hal ini Euis antisipasi dengan edukasi ibu hamil sejak awal seperti edukasi tahapan bersalin, pemeriksaan, sakit ketika melahirkan seperti apa, ketika sudah mendekati bersalin harus bagaimana dan lain-lain.

"Sudah saya kasih tahu, diedukasi, pada proses persalinannya kadang jerit-jerit, tapi tetap saat menjerit kita tidak melarang atau gimana kalau itu mengurangi sakit, membuat dia lebih tenang, silahkan. Cuman kalau bisa jangan, karena bikin capek, karena bersalin butuh tenaga dan harus dihemat tenaganya," kata dia.

Baginya, semua pasien ibu-ibu yang kerap datang dan proses persalinan cukup berkesan ditambah dengan rajinnya ibu-ibu yang datang memeriksakan kehamilan dan bayinya kepadanya.

Menurutnya hal ini menjadi bonus untuknya ketika pasien merasa puas hingga berkali-kali datang kepadanya untuk memeriksakan diri, konsultasi dan yang lainnya. Sebab hal ini juga bisa mencegah hal yang tak diinginkan seperti kondisi kehamilan di luar normal yang ia ketahui lebih awal.

Seperti pasien ibu hamil yang mengalami darah tinggi, atau kondisi ari-ari bayi yang tidak normal di mana harus ia beri perhatian khusus karena kemungkinan sang ibu hamil harus dirujuk ke rumah sakit. Maka dengan hal itu, Euis mencoba memberikan instruksi rujukan pasien di saat yang tepat.

Halaman
123
Editor: Ichwan Chasani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved