Polda Metro Dalami Kasus Persekusi dan Intimidasi Terhadap Jurnalis di Munajat 212

Polda Metro Jaya memastikan akan terus mendalami dan menyelidiki kasus dugaan persekusi dan intimidasi yang dilakukan sekelompok orang saat Munajat

Polda Metro Dalami Kasus Persekusi dan Intimidasi Terhadap Jurnalis di Munajat 212
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jumat (22/2/2019). 

SEMANGGI, WARTA KOTA -- Polda Metro Jaya memastikan akan terus mendalami dan menyelidiki kasus dugaan persekusi dan intimidasi yang dilakukan sekelompok orang saat melakukan peliputan kegiatan Munajat 212 di Monas, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (21/2/2019) malam lalu.

Hal itu diungkapkan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Kamis (28/2/2019).

"Masih kami dalami, masih dalam penyelidikan," kata Argo.

Argo menyatakan pihaknya sudah memeriksa dua saksi dalam kasus ini. "Dua saksi sudah diperiksa yaitu saksi korban dan 1 saksi lainnya. Kemungkinan kita akan panggil lagi beberapa lainnya. Nanti saya tanyakan ke penyidiknya," kata Argo.

Menurut Argo pihaknya menerima 2 laporan dalam kasus ini.

Laporan pertama adalah pelimpahan dari Polres Jakarta Pusat di mana korban adalah jurnalis detik.com. Sementara laporan kedua adalah dari jurnalis CNN yang membuat laporan langsung ke Polda Metro Jaya, Rabu kemarin.

Sebelumnya dalam laporan polisi nomor 358/K/II/2019/ Resto Jakpus, tertanggal 22 Februari 2019, wartawan detik.com atas nama Satria Kusuma melaporkan adanya kekerasan yang dialaminya oleh sekelompok orang ke Polres Jakarta Pusat.

Kekerasan dan intimidasi dialami Satria saat sedang meliput acara Munajat 215 di kawasan Monas. Laporan Satria ini kemudian dilimpahkan ke Polda Metro Jaya.

Kemudian, Jurnalis CNN Indonesia, Endra Rezaldi juga melaporkan tindak pidana dugaan persekusi dan intimidasi oleh sejumlah massa Munajat 212 ke Polda Metro Jaya, Rabu (27/2/2019).

Dalam pelaporan tersebut, Endra yang merupakan kamerawan CNN, didampingi oleh pihak Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia serta Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers. Laporan tercatat dalam nomor laporan LP/1219/II/2019/PMJ/Dit.Reskrimum, tanggal 27 Februari 2019.

Terlapor dalam kasus ini adalah massa yang memakai atribut Front Pembela Islam. "Tapi kita belum tahu ini kan mereka memakai atribut ya, itu urusan polisi untuk mencari siapa pelaku," kata Kepala Peliputan CNN, Revolusi Riza.

Dalam laporan itu mereka membawa barang bukti berupa kamera dan sebuah rekaman yang menampilkan pemaksaan penghapusan video liputan. Ada pun para saksi yang dimasukkan dalam laporan adalah yakni reporter CNN TV dan JPNN.

"Yang kami kedepankan adalah UU Persnya. Penghalang-halangan kerja jurnalistik karena teman-teman ini diintimidasi dan persekusi dan diminta menghapus rekamannya," kata Riza.(bum)

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Andy Pribadi
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved