Idris Akui Lengah dengan Maraknya Kasus DBD di Depok

Dengan membludaknya pasien-pasien DBD di sejumlah rumah sakit, Idris memerintahkan Dinas Kesehatan menggalakkan pemusnahan jentik nyamuk.

Idris Akui Lengah dengan Maraknya Kasus DBD di Depok
Warta Kota/Gopis Simatupang
Wali Kota Depok, Mohammad Idris Abdul Shomad saat hadir dalam simposium SRSJ di Balai Kota Depok, Rabu (20/2/2019). 

Wali Kota Depok, Mohammad Idris Abdul Shomad, mengakui pemerintahannya lengah dalam mengantisipasi wabah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Akibatnya, banyak warga yang terjangkit. Bahkan, ada dua pasien meninggal dunia, ditengarai karena menderita DBD.

Idris menyampaikan, sebenarnya sudah sejak lama Pemerintah Kota Depok menerapkan gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (SRSJ) demi mencegah DBD. Namun, belakangan gerakan itu seakan kendur.

Dengan membludaknya pasien-pasien DBD di sejumlah rumah sakit, Idris pun memerintahkan Dinas Kesehatan menggalakkan kembali kegiatan pemusnahan jentik nyamuk oleh juru pemantau jentik (Jumantik) melalui gerakan SRSJ.

"Akhir-akhir ini memang mungkin kelengahan ya, kelengahan kami juga, kelengahan untuk mengajak masyarakat (menerapkan gerakan SRSJ). Ketika sudah terjadi kita baru ngeh lagi nih. Mudah-mudahan ada hikmahnya," ujar Idris, saat hadir dalam simposium SRSJ di Balai Kota Depok, Rabu (20/2/2019).

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kota Depok, tahun 2016 pasien DBD di Depok mencapai 2.834 orang. Dengan pasien sebanyak itu, Pemerintah Kota Depok menetapkan kasus DBD sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Saat itu, demi menekan jumlah penderita dan mencegah warga terjangkit DBD, Pemerintah Kota Depok menelurkan sejumlah program, salah satunya gerakan SRSJ. Tiap Jumat, warga rutin membasmi jentik nyamuk secara serentak di rumah masing-masing.

Masifnya gerakan SRSJ menuai hasil dengan menurunnya angka penderita DBD secara drastis pada tahun 2017 yakni menjadi 535 orang saja.

Keberhasilan gerakan itu rupanya membuat para Jumantik terlena. Pemberantasan jentik nyamuk tak lagi sesering sebelumnya karena menganggap warga sudah terlindung dari DBD. Imbasnya, angka penderita DBD pada tahun 2018 naik menjadi 891 orang, satu di antaranya meninggal dunia.

Meski penderita DBD melonjak, aktivitas Jumantik seakan terus meredup. Akibatnya, memasuki awal tahun pasien DBD telah membeludak. Di bulan Januari 2019 saja, pasien DBD telah mencapai 504 orang dan dua di antaranya dikabarkan meninggal dunia. Sampai pekan ketiga Februari 2019, ada penambahan sebanyak 100 pasien.

Halaman
12
Penulis: Gopis Simatupang
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved