Bekraf Bawa Film 'Aruna dan Lidahnya' ke Festival Film International Berlin

Masakan Indonesia, rendang menjadi salah satu makanan yang dikenal masyarakat dunia sejak CNN mentasbihkan sebagai makanan terenak di dunia.

Bekraf Bawa Film 'Aruna dan Lidahnya' ke Festival Film International Berlin
Warta Kota/Lilis Setyaningsih
Badan Ekonomi Kreatif memberikan dukungan kepada film Aruna dan Lidahnya dalam Berlinale Culinary Cinema 2019 di ajang bergengsi Festival Film International Berlin (Berlinale) ke-69. 

Rendang semakin mendunia. Oleh CNN, makanan khas Minang itu dinobatkan sebagai salah satu makanan terenak di dunia. Bekraf mendukung film Aruna dan Lidahnya dalam Berlinale Culinary Cinema 2019 di ajang bergengsi Festival Film International Berlin (Berlinale) ke 69.

MASAKAN Indonesia, rendang menjadi salah satu makanan yang dikenal masyarakat dunia sejak CNN mentasbihkan sebagai makanan terenak di dunia.

Padahal dengan ribuan suku dan adat, kuliner Indonesia sangat beragam.

Guna mengenalkan kuliner Indonesia sekaligus usaha kreatif, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) memberikan dukungan kepada film Aruna dan Lidahnya dalam Berlinale Culinary Cinema 2019 di ajang bergengsi Festival Film International Berlin (Berlinale) ke-69.

Film yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra ini akan tayang di 2 venue festival yaitu Graupious Bau Cinema dan Cubix Cinema, Alexanderplatz.

Dari Semua Pernyataan Prabowo Subianto, Caleg Muda Ini Hanya Setuju Satu Butir

Hotman Paris Hutapea dan Tiga Anaknya Patungan Berikan Baju dan Uang ke Guru Ditoyor Siswa

BREAKING NEWS: Sopir Taksi Gantung Diri di Jakarta, Beri Wasiat Sebut Pinjaman Online Jebakan Setan

Selain itu, penonton juga diajak merasakan makanan Indonesia melalui audiovisual. Program ini juga mempersilahkan 200 orang penonton dari berbagai negara untuk mencicipi makan malam yang disiapkan panitia.

Sutradara Aruna dan Lidahnya Edwin mengatakan, makanan adalah produk budaya manusia yang universal. Bisa diterima masyarakat lintas bahasa.

"Semoga orang Jerman dan negara lain bisa melihat indahnya Indonesia melalui makanan. Selain itu, mengenal Indonesia lewat problem sehari-hari yang dialami para tokoh, gaya bicara mereka, sampai adat orang Indonesia yang tampak di film," ujar Edwin saat diskusi Film Aruna dan Lidahnya Menuju Berlinale Culinary Cinema di Djakarta Theater belum lama ini.

Produser Film Aruna dan Lidahnya Meiske Taurisia berharap Aruna dan Lidahnya dapat menjadi gerbang informasi dan pengalaman merasakan budaya Indonesia lewat media layar lebar.

"Masyarakat Internasional bisa tergugah serta tertarik merasakan sendiri makanan enak. Caranya dengan mengunjungi Indonesia," ujarnya.

Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Simanjuntak mengatakan, film Indonesia telah mendapat hati bagi penonton dalam negeri. Tahun lalu ada sekitar 50 juta penonton melihat film Indonesia. Ia menyebut beberapa film yang meledak di pasaran, Dilan 1990, Wiro Sableng, dan Suzana.

Film juga juga seringkali jadi lokomotif multiplayer. Film Laskar Pelangi mengangkat Pulau Belitung menjadi destinasi wisata. Hal inilah yang terlihat di film Aruna dan Lidahnya yang bisa diikutkan pada Culinary Cinema.

"Ada culinery cinema. Kita harus berangkat. Apa sih yang diharapkan? Subsektor kuliner bisa dikenal dan membuka pintu bisnis untuk ekspor usaha kreatif masuk ke pasar global. Film bisa jadi lokomotif dan kami antusias dukung Aruna dan Lidahnya ke Berlinale," ujarnya.

Bekraf mendukung 4 orang dari tim produksi Aruna dan Lidahnya ke event tersebut yang terdiri dari Edwin, Meiske, Muhammad Zaidy (produser), dan Laksmi Pamuntjak (penulis buku). (Lis)

Penulis: Lilis Setyaningsih
Editor: Hertanto Soebijoto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved