VIDEO: Begini Modus Pasutri Tipu Korbannya dengan Iming-iming Keuntungan

mereka menawarkan dan menjual valas dengan mata uang asing ke para korban dengan iming-iming mendapat keuntungan besar

Pasangan suami istri George alias GRH dan Lyana alias LW, yang keduanya berprofesi sebagai pengusaha money changer di Tangerang Selatan berhasil menipu 4 orang korbannya hingga belasan miliar rupiah.

Modusnya mereka menawarkan dan menjual valas dengan mata uang asing ke para korban dengan iming-iming mendapat keuntungan besar karena kurs dolar yang ditawarkan jauh lebih menguntungkan dari kurs resmi yang ditetapkan bursa efek atau bank.

Keduanya dibekuk Subdit II Fismondev Ditreskrimsus Polda Metro Jaya tanpa perlawanan di rumahnya di Tangsel, Januari 2019 lalu.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menjelaskan pihaknya berhasil mengungkap kasus ini setelah Subdit II Fismondev Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menerima 4 laporan dugaan penipuan bermodus menjual valas pada bulan September dan Oktober 2018 lalu.

"Dari 4 laporan polisi itu, kami lakukan penyelidikan dan berhasil mengidentifikasi pelakunya yakni GRH dan LW yang merupakan pasangan suami istri. Mereka adalah pengusaha money changer di Tangsel," kata Argo dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Senin(11/2/2019).

Menurut Argo tempat kejadian penipuan yang dilakukan pasutri ini dari 4 laporan polisi yang diterima adalah di Tangerang Selatan Banten, di Glodok, Jakarta Barat, di Bukit Barisan, Medan, Sumatera Utara serta di Surabaya, Jawa Timur.

"Dari empat laporan di empat lokasi itu, ada empat korban," katanya.

Yakni Sandi yang mengalami kerugian Rp 2,3 Miliar, Murni mengalami kerugian Rp 3,8 Miliar, Yulia kerugian Rp 700 Juta dan Heri kerugian Rp 5 Miliar. Totalnya sekitar Rp 11,2 Miliar.

"Pasutri pelaku ini mengakui bahwa 4 orang itu sudah menjadi korbannya," kata Argo.

Bahkan kata Argo dari hasil penyelidikan, pasutri pelaku penipuan ini sudah melakukan aksinya sejak 2014 lalu.

"Karenanya kami duga, korban penipuan pelaku masih banyak. Bagi masyarakat yang merasa pernah ditipu pelaku, bisa melaporkannya ke kami," kata Argo.

Kasubdit II Fismondev Ditreskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Harun menjelaskan para korban rata-rata mengetahui tawaran valas dengan keuntungan besar dari para pelaku melalui mulut ke mulut.

"Yang membuat para korban tertipu dan tertarik menyetorkan uang untuk valas karena selisih keuntungan yang ditawarkan pelaku jauh lebih besar dari bunga yang didapat dari bank. Ini yang membuat korban tertarik," katanya.

Ke depan Harun meminta masyarakat tidak terlalu mudah percaya dengan iming-iming keuntungan besar dari pihak tertentu yang tidak masuk akal. "Lebih baik untuk hal seperti ini dicek dulu ke OJK atau bank atau otoritas keuangan lainnya," kata Harun.

Karena perbuatannya kata Harun para pelaku akan dijerat pasal berlapis. Yakni Pasal 378 KUHP tentang penipuan, dengan ancaman pidana penjara paling lama 4 tahun; Pasal 372 KUHP tentang penggelapan dengan pidana penjara paling lama 4 tahun; Pasal 49 ayat (1) huruf a dan ayat (2) huruf b UU RI No. 7 tahun 1992 tentang Tindak Pidana Perbankan, dengan ancaman pidana penjara sekurang-kurangnya 3 tahun dan paling lama 8 tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp 5 Miliar dan paling banyak Rp 100 Miliar serta Pasal 3 UU RI No.8 tahun 2010 tentang TPPU, dengan pidana penjara paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp 10 Miliar. (bum)

Penulis: Budi Sam Law Malau
Editor: Ahmad Sabran
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved